Skip to main content

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

24/05/22

Seminggu setelah ujian bagian PPDS Anak Unsri yang pertama dimulai…

Saat ini aku sudah berada di Jambi, kota asalku.

3 hari yang lalu aku pulang, setelah menyelesaikan rangkaian ujian yang melelahkan. Ya sebut saja ujian hidup, hehehehe

Ujian bagian kemarin merupakan ujian inti setelah ujian kesehatan, psikotes, MMPI, hingga wawancara MMPI yang dilaksanakan sebelum lebaran idul fitri. Ujian bagian ini berlangsung dalam seminggu, hmm lebih tepatnya 4 hari.

Ada 5 tahap seleksi ujian masuk bagian (ujian bidang) PPDS Anak FK Unsri:

  1. Ujian (penggunaan) komputer

         Eitss bukan ujian CBT ya maksudnya haha. Kita diuji bagaimana penggunaan komputer dalam keseharian. Jadi disini kita diberikan soal untuk mengerjakan hal yang berhubungan dengan Microsoft office.  Terdiri dari mengetik di Microsoft word, membuat presentasi di power point, dan membuat grafik di excel. 
        Menilai ketepatan, ketelitian, dan kecepatan dalam mengetik, membuat presentasi power point dari narasi dan membuat diagram/grafik dari tabel. Waktu yang diberikan sekitar 1 jam, namun lebih cepat lebih baik tentunya. Rata-rata tidak sampai 1 jam, semua udah pada selesai. Jika sudah selesai, segera lapor. Ohiya disini kita juga diuji penggunaan zoom, apalagi di zaman pandemi ini banyak seminar online, setidaknya hal-hal dasar harus kita ketahui seperti membuat meeting, share link, ganti background, share screen. 
 

2.       Ujian kasus 

        Setelah ujian komputer selesai, sorenya diumumkan nomor urut peserta dan pembagian kelompok untuk ujian kasus atau presentasi jurnal terlebih dahulu. Sekedar informasi, ada 16 peserta yang mendaftar, dan jumlah ini terbilang cukup banyak dibandingkan periode sebelumnya. Jadi jumlah peserta dibagi dua kelompok.  Aku mendapatkan kelompok yang maju ujian kasus terlebih dahulu. *jeng jeng jeng*

        Kasus yang diujikan adalah kasus anak yang sehari-hari sering ditemukan, seperti kasus DBD, Kejang Demam, Bronkopneumonia, Bronkiolitis, Diare akut, Anemia defisiensi besi, Thalasemia. Tentunya adalah kasus yang masih kompetensi dokter umum.

        Jika ingin belajar kasus, saranku bagilah berdasarkan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Ilmu Kesehatan Anak, namun diantara UKK itu pilihlah kasus yang kompetensi dokter umum. Misal kasus yang rumit seperti kasus-kasus di UKK endokrin metabolik, Cardio, dan Nefro mungkin cukup sekedar tau a.k.a tidak usah dipelajarin banget. boleh tetap belajar untuk ujian tulis/multiple choice. Ada 14 UKK IKA, yaitu: Gastrohepatologi, Neonatologi, Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Pulmonologi, Nefrologi, Neurologi, Hematologi, Gizi, Kardiologi, Pediatrik Gawat Darurat, Infeksi & Penyakit Tropis, Endokrinologi, Pencitraan, dan Alergi Imunologi.

       Menurutku ujian kasus ini adalah gabungan antar OSCE dan SOCA. Awalnya, kita dipaparkan oleh sebaris kalimat yang menunjukkan keluhan utama pasien. Selanjutnya, kita diberikan waktu untuk anamnesis, PF, mengajukan pemeriksaan penunjang, diagnosis banding hingga tatalaksana pada pasien.

        Kita melakukan pemeriksaan fisik pada manekuin. Point penting pada anak adalah pemeriksaan antropometri, yaitu ukur berat badan, timbang berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas. So jangan sampai terlewat. Setelah tau, plot status gizi jika memang ada plotnya. Lakukanlah pemeriksaan secara legeartis dan jangan terburu-buru, namun jangan sampai terlalu lama juga. Perbanyak latihan bersama teman-teman dan jadikan boneka sebagai manekuin biar kita terbiasa dan terbayang. Interpretasi dari pemeriksaan fisik juga perlu dipelajari seperti turgor kulit lambat itu berapa lama? sangat lambat seperti apa? Dimana tempat untuk periksa turgor kulit pada anak? benar-benar detail dan disuruh praktikkan dengan bener. lalu apa fungsi kita melakukan pemeriksaan itu? Pada saat auskultasi jantung misalnya, ditanyakan satu-satu, katup apa yang kamu auskultasi di bagian itu. Dan banyak hal dasar lainnya yang ditanyakan huahahahha tidak disangka tidak diduga, banyak belajar teori penyakitnya, tapi ternyata hal-hal dasar itulah yang terlewatkan.

        Jangan lupa bawa dan persiapkan peralatan yang digunakan, harus disesuaikan alat yang dipakai dengan usia pasien. Misal, jangan sampe kita menggunakan stetoskop dewasa dan manset tensi dewasa. Ya yang seperti itu tentu sajalah ya, atau stetoskop neonatus untuk periksa toddler.

        Setelah kita menjawab semuanya, barulah kita ditanya-tanya oleh para penguji. Penguji terdiri dari 5 orang, masing-masing diberikan waktu untuk bertanya pada peserta. Pertanyaannya bisa tentang kasus bisa juga tidak. Ketika mau ambil spesialis anak, berarti kita harus tau secara komprehensif. Mulai dari status gizi, tumbuh kembang, imunisasi, MTBS. Jadi jangan kaget ketika ditanya apa yang terjadi pada anak ini jika anak usia 9 bulan baru bisa menegakkan kepala? Saat anamnesis, penguji sebagai orang tua pasien akan bertanya “imunisasi lengkapnya apa aja ya yang seharusnya?”

        Apa yang kita ajukan sebagai diagnosis banding, maka itulah yang akan dipertanyakan. Begitupun pemeriksaan penunjang yang kita ajukan akan menjadi pertanyaan, maka kita harus punya alasan yang kuat untuk menjawab.

3.       Ujian presentasi dan kritik jurnal

        H-1 ujian lebih tepatnya kurang dari 12 jam, jurnal dibagikan kepada para peserta. Jurnal dalam bahasa inggris, dibuat power point, lalu kita presentasikan poin jurnalnya dan ditanya tentang review jurnal, critical appraisal.

Ingat jangan membuat power point yang langsung copas dari jurnalnya, perhatikan juga tata cara pembuatan presentasi yang menarik, jangan terlalu banyak tulisan, tapi jangan terlalu rame warna-warni juga.

Sebagai seorang dokter kita harus bisa menganalisa jurnal mana yang layak kita pakai sebagai acuan, kita juga harus tau penelitian jenis apa yang digunakan, maka dari itu harus tau urutan tertinggi penelitian hingga paling rendah, makna dari p value, OR ratio, tabel yang tercantum, grafik, dll serta statistik yang digunakan serta alasannya.

Belajar darimana?

Terimakasih untuk guru dan kurikulumku saat kuliah karena memang sering diajarkan tiap blok tentang metode penelitian hingga analalisis statistiknya. Beberapa kali aku mengulang lectures yang diberikan oleh dosen2ku. Walaupun sejujurnya banyak hal yang aku lupa, namun ketika diulang-ulang muncul juga sedikit ingatannya. bener-bener ya ilmu tuh harus diterapkan kalau gak ya hilang gitu aja.

Selain itu perlu belajar dari buku ini juga, sulit memang dicari, sampai akhirnya ada salah satu teman belajar yang punya dan kami pun belajar bersama di detik-detik terakhir, sehari sebelum presentasi.

 

4.       Ujian multiple choices

Alias ujian teori pilihan berganda, hmm soal-soal ujian masuk PPDS Anak diambil dari kolegium, kemungkinan sama rata seperti itu di tiap ujian masuk PPDS di seluruh univ indonesia. Karena memang sudah ada aturan dan  kesepakatannya (katanya)

Di Unsri sendiri, ujiannya kali ini berbeda dari sebelumnya. LITERALLY, BEDA! Wkwkkwkwk. Denger-denger sebelumnya soalnya disajikan tertulis di atas kertas, lalu kita menjawab di atas kertas, sekitar 100 soal, dengan waktu 60 menit, dalam bahasa indonesia. Tapi kali ini, soalnya disajikan dalam slide power point, bahasa inggris, jumlah 70 soal, masing-masing soal diberikan waktu 50 detik, lalu kita tinggal silang jawaban yang menurut kita bener. Hahahha sulit banget rasanya menentukan pilihannya, kalau ada dua pilihan yang kita ragu, baru mau silang jawabannya, eh slidenya udah pindah :”) banyak soal yang ragu-ragu, akhirnya gatau deh jawab yang mana.

Soal-soalnya susah-susah banyak dan sedikit yang bisa. Soal-soalnya dasar dan detail. Banyak hal yang di luar dugaan dan tidak terpikir ternyata ditanya juga, seperti penggunaan car seat haha dan apa yang membuat BAK warna merah. Tapi banyak juga soal cerita yang panjang dan mengecoh. 

5.       Wawancara

Terdiri dari wawancara bagian/divisi dengan KPS/Kabag/Ka SMF dan bersama konsulen senior. Karena banyak yang mendaftar, jadi sekali masuk ber-8 (sesuai dengan kelompok yang sebelumnya dibagi). Pagi ujian multiple choices, lanjut wawancara bersama konsulen senior, dan siangnya lanjut wawancara divisi.

Yang ditanyakan saat wawancara adalah diri kita sendiri, kelebihan, kelemahan, kesiapan secara finansial dan jangan lupa juga belajar tentang kasus yang lagi ‘naik daun’ seperti saat aku ujian kemarin sedikit disinggung tentang Hepatitis of Unknown Origin, yaitu hepatitis yang belum diketahui penyebabnya. ada juga pertanyaan sederhana yang diajukan dan kita harus menjawabnya dengan cepat, waktu itu kami ditanya "ada berapa bola golf yang bisa masuk ke botol ini?"

 Jika ditanya, bisa gak ujiannya? Kira-kira presentasi lulus apa gak-nya berapa banding berapa?

Aku tidak bisa menjawab, benar-benar tidak bisa memprediksi. Tapi jujur aku pesimis, melihat ujianku yang kurang maksimal dan saingan yang hebat-hebat. Di sisi lain, aku juga tidak ingin mendahului ketentuannya, aku berdoa, apapun bisa terjadi atas kuasa-Nya.

Inilah yang aku rasakan....

Ujian komputer harusnya bisa aku lalui dengan maksimal, namun ada saja kendala teknis dan gangguan yang membuatku menjadi lama untuk menyelesaikannya. Ditambah lagi rasa grogi yang membuatku berkali-kali harus terhenti sejenak.

Aku merasa aku belum mengerjakannya dengan maksimal, terutama di ujian kasus.

Aku merasa sangat bodoh saat ditanya hal-hal mendasar yang seharusnya aku tau. Padahal belajarnya tentang teori blablabla tapi ternyata yang ditanya di luar dugaan. Hal inilah yang semakin membuatku menyesal. Kasusnya tidak sulit, tapi tidak bisa aku ‘selesaikan’ dengan maksimal.

Bagaimanapun kita berusaha, memang Allah yang menentukan.

Mungkin aku memang kurang keras usahanya, kurang teliti, kurang menguasai, dan masih banyak kurang lainnya.

Bagaimanapun juga, kita tidak mampu menyingkirkan factor X.

Memang aku akui, aku grogi saat itu, padahal di awalnya aku cukup tenang saat anamnesis dimulai semuanya mengalir. Huhu tapi saat mulai Pediatric Assessment Triangle (PAT) malah mulai ancur, fokus terpecah.

Ah ada beberapa hal yang memang merasa salah besar dan fatal. Baru merasa setelah keluar dari ruangan.

Bahkan apa yang aku pikirkan dan aku ucapkan saja tidak sinkron

Ya Tuhan…

Setelah itu aku bener-bener kacau, tapi di sisi lain, merasa sudah lega juga telah melewati ujian mengerikan yang pertama itu.

Ujian selanjutnya aku mencoba untuk semaksimal mungkin. Tapi semakin kita berharap, semakin kecewa juga kita. Ujian presentasi jurnal berlangsung dengan cukup lancar walaupun aku menjawab dan presentasi dalam bahasa inggris dengan terbata-bata. Mungkin secara penampilan, cukup mengganggu dan tidak sebagus itu. Tapi ya sudahlah. Saat ujian ini, aku sudah tidak secemas itu, seperti hari sebelumnya saat ujian kasus.

Alhamdulillah…

Aku juga berusaha maksimal di ujian berikutnya, yaitu ujian pilihan berganda dan wawancara yang dilaksanakan dalam 1 hari.

Pilihan berganda yang sangat aku targetkan bisa mendapat hasil terbaik. Namun, apa daya tidak juga bisa kujawab dengan maksimal. Hancurlah harapanku untuk bisa mengerjakan soal-soalnya dengan lancar.

Ujian wawancara ilmiah, disini kami malah lebih tanya tentang kelebihan dan kelemahan.

Sama seperti siangnya

Namun, aku menyadari kesalahanku, terlalu jujur, terlalu polos, tidak memikirkan dampak atas ucapanku.

Keluar dari sana aku sebenernya lemas, ditambah lagi saat aku bertanya ke teman-teman yang wawancara.

Disitu aku merasa sedih dan putus harapan.

Sampai sekarang pun, masih sering teringat blunder yang aku buat. Masih teringat kesalahan-kesalahan yang aku perbuat.

Semuanya memang tidak bisa berubah lagi.

Aku hanya bisa berdoa, yang terbaik. Aku ingin lulus, namun aku juga menyadari ujianku jauh dari kata maksimal. Aku berdoa jika memang saat ini rezekiku, maka buatlah aku menjadi salah satu dari daftar nama2 yang lulus. Jika belum saatnya, semoga aku bisa menerimanya, belajar lebih giat lagi, dan mampu menggapai di kemudian hari.

---

sekitar seminggu setelahnya, masih ada ujian wawancara terakhir bersama direksi dan jajarannya.

 

(Tulisan ini ditambahkan saat setelah pengumuman keluar, tapi tulisanku tentang perasaan setelah ujian itu benar adanya)


Semoga bermanfaat,

 

Cheers. 


setelah tulisan ini dipublished, beberapa orang menghubungiku karena mengatakan sepertinya susah sekali tesnya dan malah jadi takut setelah baca tulisanku, padahal tidak bermaksud menakut-nakutin. semuanya terasa lebih mudah ketika sudah dilewati. "ternyata tidak seseram itu"

Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...