Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak?
Tulisan ini terinspirasi dari
pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan
beberapa yang di luar tenaga medis.
Pertanyaan ringan yang seharusnya
dijawab automatis tanpa berpikir panjang.
Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak
untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa
ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin
diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS
yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang
berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini.
Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-besarkan diri, tanpa mengecilkan program studi lainnya, kejujuran yang mungkin bisa menyinggung tapi tidak untuk menjatuhkan. Here we are, 10 things about pediatric residency life:
- Zero mistake
Dituntut kesempurnaan,
tidak boleh ada kesalahan. Kadang memang sekejam itu. Jangan khawatir semua
tidak tiba-tiba sempurna, tapi kesalahan juga tidak diizinkan apalagi diulang
terus. Kesempurnaan terlahir dari latihan yang sempurna. Seperti kata salah
supervisorku “Perfect practice makes perfect”. Walaupun begitu namanya juga
masih belajar kan, ada salah satu perkataan seniorku yang membuatku bertahan di
titik terendah saat menjalani stase berat “Eh Mi, udahlah, lo salah itu ya
karena lo lagi belajar, kalo lo benar terus lo udah jadi sekelas konsultan dong!
Tapi jangan diulang-ulang terus kesalahannya”
Bahkan untuk beberapa hal, tidak boleh ada kasus tertentu yang meninggal. Perjuangkan dan pertahankan hingga titik darah penghabisan. Tidak jarang kan melihat residen Anak RJP sampe pasien ROSC, memperjuangkan hingga RJP bersiklus-siklus, memberikan berbagai obat vasoaktif, memaksimalkan apa yang bisa dimaksimalkan. Tapi untuk kasus-kasus yang memang penyakit kronis dan sudah di tahap akhir, merelakan adalah pilihan
2. From zero to hero
Waktu junior aku gak bisa apa-apa. Kasarnya ya gitulah. Udah kompeten sebagai dokter umum sih, udah pengalaman jadi dokter IGD di rumah sakit juga padahal. Tapi tetap saja semua itu kan ada tahapannya. Bersyukur sekarang sudah ada ilmu dan skill walapun ya masih so-so lah ya. Hahahha udah bisa intubasi, lumbal pungsi, kemoterapi intratekal, BMP, setting ventilator bayi dan pediatrik. Jangan pernah cepat puas, karena bagaimanapun masih harus banyak belajar.
Ohiya, kalau alasan masuk Anak untuk menghindari ‘tindakan’, salah bangeeet yak wkwk karena di Anak harus bisa ngelakuin tindakan juga walaupun tidak sebanyak program studi Bedah misalnya. Jadi gak cuma mikir, tapi harus terampil juga.
Kami terbiasa
hmm membiasakan diri mungkin ya, melakukan sesuatu dengan cepat. Bahkan tidak
sekedar cepat saja tapi juga tepat. Membagi prioritas mana yang harus didahulukan
“NOW!!!”
Kalau di Neurologi
Time is Brain, di Kardiologi Time is Muscle. #CMIIW
Waktu adalah
nyawa untuk anak-anak yang sakit (tidak semua kasus ya). Perburukannya bisa
lebih cepat dibandingkan pasien dewasa. Ditundanya terapi bisa memengaruhi kesembuhan
pasien, makanya kami sering sedih menemukan pasien yang sudah terdiagnosis
dengan penyakit tertentu tapi tidak kontrol ulang, tidak mendapatkan terapi
yang tepat, lalu datang lagi ke kami dengan kondisi yang udah berat.
Berikut salah satu
contohnya:
Terlambatnya masuk
antibiotik bisa menjadi perkara, perubahan cairan infus apalagi.
Tuntutan untuk
menjadi cepat bisa dari supervisor, senior, sebenernya ujung-ujungnya untuk pasien. Jika sumber
daya/fasilitas tidak mendukung tentu saja bisa jadi ‘bertanduk’.
Ini berasa sih mungkin
adik-adik dokter muda ngerasain nih kakak-kakak residen berisik banget butuh
cepet melulu wkwk.
Sering juga kan
teman sejawat anestesi, bedah sebel dikejer-kejer residen Anak? Wkwkkwk ya
begitulah kami, minta jawaban konsul segera, minta tindakan segera, macem2lah. Oh
bahkan sejawat radiologi, patologi anatomi, patologi klinik, mikrobiologi cukup
terbiasa juga dihantui residen Anak. Kalau hasilnya kurang sesuai klinis bahkan
bisa berlanjut diskusinya.
Salah satu
petugas lab pernah ngomong “Hhmmm.. cuma residen anak deh yang ngejar-ngejar
hasil kultur darah ini, atau minta cepet-cepet keluarin hasil BMP pasien”. Oh
ya belum lagi Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) yang sering kami mintakan
stok darah.
Sebenernya ini
bukan hanya tentang program studi di Anak saja, mungkin di bidang lain juga
seperti itu. Sekolah jadi PPDS itu tidak seperti jaman kita kuliah, atau bahkan
koass. Ya tentu saja lebih naik tingkat ya, tapi banyak hal yang di luar
ekspektasi yang sulit untuk dijelaskan. Semua yang keterima pasti yang pinter,
tapi hal yang membedakannya adalah kegigihan dan cara mengatur strategi untuk
bertahan. Pressure yang tinggi
setinggi settingan ventilator pasien ARDS (?), kemampuan adaptasi yang harus
cepat secepat neonatus yang lahir dunia, belum lagi drama ini itu lebih-lebih
drama korea dah, banyak lebih-lebihnya kalo di Anak hehehe.
24 jam banget ya
guys kalo ada SC mesti standby, siap sedia kalo ada pasien gawat dan dikonsulin
(ini berasa saat stase luar kota).
“Kak...kecil
banget kak susah intubasinya” kata salah satu juniorku yang baru saja mencoba
intubasi bayi 800 gram namun karena ini pengalaman pertamanya, jadi belum
berhasil.
Yeah the
neonates, when every inch and gram does matter.
Di satu sisi...
“Kak..belum
biasa intubasi pasien besar gini, kebiasa yang kecil-kecil”
“Iyaa, gapapa
sama aja kok prinsipnya, tapi sedasi premedikasinya harus pas sebelum intubasi,
jangan maksa.”Kataku
Begitulah jadi
residen Anak, harus bisa semuanya, cakupannya luas 0 hari – 18 tahun.
Jangan tanya
pusingnya gimana dan perkara dosis hahaha. Jujur masih sering buka contekan
juga.
7. Buah hati tersayang dan keluarganya
Anak itu adalah
buah hati, paling disayangi orangtuanya, apapun yang terjadi, apapun kekurangan
dan sakitnya.
Nyeri sedikit saja
kalau bisa jangan, demam, batuk apalagi. Harus bisa memposisikan diri dan
empati ke orangtua pasien. Bahkan tidak jarang harus banyak mengobrol, tidak
hanya sekedar memberikan obat tapi edukasi yang panjang dan jelas.
Khususnya lagi, ketika
kamu sedang galau dan sedih, tapi kamu adalah residen Anak...harus tetap tersenyum
dan ceria di depan pasien. Pasang senyum 5 cm dah.
Ada saja orangtua
yang tidak mengerti. Pernah ketemu orangtua yang ingin anaknya segera ditangani
di IGD, padahal anaknya sudah diperiksa dan tidak butuh tatalaksana segera. Di sisi
lain ada bayi 1000 gram yang sesak, tentu saja lebih memprioritaskan pasien bayi
itu. Orangtua anak tersebut marah-marah dan komplain. Harus ekstra sabar
pokoknya, yang dihadapin bukan hanya pasiennya saja, tapi ibu, bapak, nenek,
kakek atau keluarga-keluarga lainnya. Menjelaskannya juga harus jelas dan
pastikan mengerti.
Paling sedih kalau menghadapi pasien bayi, apalagi bayi yang terlahir dari sepasang suami istri yang berjuang mendapatkan anak bertahun-tahun lamanya. Bapernya bukan main.
Pernah ngerawat
pasien dari program bayi tabung (penantian 5-10 tahun), pernah juga merawat
anak ‘orang penting’, anak kembar yang kembarannya selamat tapi satunya tidak.
8. Seperti anak-anak
Salah satu teman
seangkatanku ditanya ulang sama supervisor yang memberikan rekomendasinya saat
masuk PPDS “Kamu yakin masuk Anak? Coba pikir-pikir dulu lagi deh...”
Terbiasa menghadapi
anak-anak, sedikit banyak membuat sifatnya juga seperti anak-anak. *sebagian
teks hilang*
Kalau ada
perundungan di bagian program studi lain, hampir kupastikan saat ini tidak ada
di Anak. Kenapa? Ah memberikan order
yang macam-macam itu tidak ada di kamus kami, pikiran kami lebeih banyak
tentang pasien dibandingkan diri sendiri, kebanyakan order kami berhubungan dengan kepentingan/keselamatan pasien. Kalau
senior marah karena hal yang membahayakan, itu wajar. Kalau senior memberitahu
hal-hal benar yang mungkin tidak diketahui junior, itu bukan bully itu adalah bentuk perhatian karena
kalau tidak dikasihtau, tidak ditegur mereka tidak tau mana yang benar dan
salah. Hanya sesaat saja marah dan kesalnya, setelah itu semua akan balik lagi
seperti biasa. Karena kami berusaha fair dalam
hal menegur.
Sekali lagi bully tidak hanya tindakan, bisa juga tercetus dari lisan. Sebisa mungkin menegur dengan hati-hati agar tidak menyaki hati dan tidak mempermalukan. Jika tidak ingin diperlakukan tidak baik, maka jangan memperlakukan orang lain dengan tidak baik juga. Kalaupun ada order yang di luar perihal pasien, itu juga pasti sangat terpaksa dan bentuknya adalah minta tolong.
10. Keseimbangan
Dari tadi ngomongin
pasien mulu, jangan lupa ilmiahnya wkwkkw. ILMIAH ILMIAH ILMIAH. Harus bisa
membagi waktu di antara kesibukan ngerawat pasien, printilan-printilan dokumentasi/berkas-berkas,
visite, poli, jaga. Gak akan naik
tingkat kalau ilmiahnya gak bener, gak semudah itu juga untuk lulus dalam ilmiah,
tidak hanya hasil, tapi harus melalui proses yang benar juga. Pokoknya
gimanapun caranya harus dikerjain itu ilmiahnya, mulai dari tahap junior sampe
senior ilmiahnya tetep bikin pusing wkwk.
Kalau ada yang menanyakanku
gimana jadi residen Anak, aku akan jujur-jujuran, ngomong apa adanya kalau
capeknya luar biasa, belum lagi permasalahan dan tantangannya. Kalau sudah tau
segala tantangan yang akan dihadapi nantinya, jika memang niat maka hatinya
tidak akan goyah. Dia akan tetap mendaftar menjadi PPDS Anak.
Sama seperti seseorang yang
sedang menulis ini, sudah tau sedikit ‘bocoran’ kehidupan yang akan dihadapi
saat pendidikan, tapi tetap memilih, langkahnya memang tidak mulus, dia tetap
bersyukur bisa masuk dan menjalaninya. Makanya kita berdoa tidak hanya
dimudahkan saja urusannya, tapi diberikan kekuatan dalam segala ujian.
Kalau liat residen DV (kulit)
cakep-cakep dan wangi banget, sementara ngeliat diri sendiri haduhh kucel, abis
jaga kadang mandi aja gak sempat :( But that’s life, masing-masing pasti ada
kelebihan dan kekurangannya, memilih spesialis itu sesuaiin ke diri
masing-masing ya maunya sebenernya yang gimana sih.
So, kesimpulannya...
Ya jadi residen anak memang
capek, stressful, banyak tekanan sana
sini, hadeh hadeehh mulu, kadang nangis, tapiii setiap ngeliat pasien anak yang
membaik setelah perawatan ada kebahagiaan tersendiri.
Palembang, 15 Maret 2026
Residen Anak yang harusnya
menyelesaikan ilmiahnya tapi malah nulis cerpen ini (?)
Comments
Post a Comment