Skip to main content

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak?

Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis.

Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.  Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini.

Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-besarkan diri, tanpa mengecilkan program studi lainnya, kejujuran yang mungkin bisa menyinggung tapi tidak untuk menjatuhkan. Here we are, 10 things about pediatric residency life:

  1. Zero mistake

Dituntut kesempurnaan, tidak boleh ada kesalahan. Kadang memang sekejam itu. Jangan khawatir semua tidak tiba-tiba sempurna, tapi kesalahan juga tidak diizinkan apalagi diulang terus. Kesempurnaan terlahir dari latihan yang sempurna. Seperti kata salah supervisorku “Perfect practice makes perfect”. Walaupun begitu namanya juga masih belajar kan, ada salah satu perkataan seniorku yang membuatku bertahan di titik terendah saat menjalani stase berat “Eh Mi, udahlah, lo salah itu ya karena lo lagi belajar, kalo lo benar terus lo udah jadi sekelas konsultan dong! Tapi jangan diulang-ulang terus kesalahannya”

Bahkan untuk beberapa hal, tidak boleh ada kasus tertentu yang meninggal. Perjuangkan dan pertahankan hingga titik darah penghabisan. Tidak jarang kan melihat residen Anak RJP sampe pasien ROSC, memperjuangkan hingga RJP bersiklus-siklus, memberikan berbagai obat vasoaktif, memaksimalkan apa yang bisa dimaksimalkan. Tapi untuk kasus-kasus yang memang penyakit kronis dan sudah di tahap akhir, merelakan adalah pilihan

2. From zero to hero

Waktu junior aku gak bisa apa-apa. Kasarnya ya gitulah. Udah kompeten sebagai dokter umum sih, udah pengalaman jadi dokter IGD di rumah sakit juga padahal. Tapi tetap saja semua itu kan ada tahapannya. Bersyukur sekarang sudah ada ilmu dan skill walapun ya masih so-so lah ya. Hahahha udah bisa intubasi, lumbal pungsi, kemoterapi intratekal, BMP, setting ventilator bayi dan pediatrik. Jangan pernah cepat puas, karena bagaimanapun masih harus banyak belajar.

Ohiya, kalau alasan masuk Anak untuk menghindari ‘tindakan’, salah bangeeet yak wkwk karena di Anak harus bisa ngelakuin tindakan juga walaupun tidak sebanyak program studi Bedah misalnya. Jadi gak cuma mikir, tapi harus terampil juga.






 
3.  Waktu adalah nyawa

Kami terbiasa hmm membiasakan diri mungkin ya, melakukan sesuatu dengan cepat. Bahkan tidak sekedar cepat saja tapi juga tepat. Membagi prioritas mana yang harus didahulukan

“NOW!!!”

Kalau di Neurologi Time is Brain, di Kardiologi Time is Muscle. #CMIIW

Waktu adalah nyawa untuk anak-anak yang sakit (tidak semua kasus ya). Perburukannya bisa lebih cepat dibandingkan pasien dewasa. Ditundanya terapi bisa memengaruhi kesembuhan pasien, makanya kami sering sedih menemukan pasien yang sudah terdiagnosis dengan penyakit tertentu tapi tidak kontrol ulang, tidak mendapatkan terapi yang tepat, lalu datang lagi ke kami dengan kondisi yang udah berat.

Berikut salah satu contohnya:


Terlambatnya masuk antibiotik bisa menjadi perkara, perubahan cairan infus apalagi.

Tuntutan untuk menjadi cepat bisa dari supervisor, senior, sebenernya ujung-ujungnya untuk pasien. Jika sumber daya/fasilitas tidak mendukung tentu saja bisa jadi ‘bertanduk’.

Ini berasa sih mungkin adik-adik dokter muda ngerasain nih kakak-kakak residen berisik banget butuh cepet melulu wkwk.

Sering juga kan teman sejawat anestesi, bedah sebel dikejer-kejer residen Anak? Wkwkkwk ya begitulah kami, minta jawaban konsul segera, minta tindakan segera, macem2lah. Oh bahkan sejawat radiologi, patologi anatomi, patologi klinik, mikrobiologi cukup terbiasa juga dihantui residen Anak. Kalau hasilnya kurang sesuai klinis bahkan bisa berlanjut diskusinya.

Salah satu petugas lab pernah ngomong “Hhmmm.. cuma residen anak deh yang ngejar-ngejar hasil kultur darah ini, atau minta cepet-cepet keluarin hasil BMP pasien”. Oh ya belum lagi Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) yang sering kami mintakan stok darah.

 4.       Lower your expectation

Sebenernya ini bukan hanya tentang program studi di Anak saja, mungkin di bidang lain juga seperti itu. Sekolah jadi PPDS itu tidak seperti jaman kita kuliah, atau bahkan koass. Ya tentu saja lebih naik tingkat ya, tapi banyak hal yang di luar ekspektasi yang sulit untuk dijelaskan. Semua yang keterima pasti yang pinter, tapi hal yang membedakannya adalah kegigihan dan cara mengatur strategi untuk bertahan. Pressure yang tinggi setinggi settingan ventilator pasien ARDS (?), kemampuan adaptasi yang harus cepat secepat neonatus yang lahir dunia, belum lagi drama ini itu lebih-lebih drama korea dah, banyak lebih-lebihnya kalo di Anak hehehe.

 5.       Siap sedia, siap siaga

24 jam banget ya guys kalo ada SC mesti standby, siap sedia kalo ada pasien gawat dan dikonsulin (ini berasa saat stase luar kota).

 6.       From the tiny one to the huge one

“Kak...kecil banget kak susah intubasinya” kata salah satu juniorku yang baru saja mencoba intubasi bayi 800 gram namun karena ini pengalaman pertamanya, jadi belum berhasil.

Yeah the neonates, when every inch and gram does matter.

Di satu sisi...

“Kak..belum biasa intubasi pasien besar gini, kebiasa yang kecil-kecil”

“Iyaa, gapapa sama aja kok prinsipnya, tapi sedasi premedikasinya harus pas sebelum intubasi, jangan maksa.”Kataku

Begitulah jadi residen Anak, harus bisa semuanya, cakupannya luas 0 hari – 18 tahun.

Jangan tanya pusingnya gimana dan perkara dosis hahaha. Jujur masih sering buka contekan juga.

 7.       Buah hati tersayang dan keluarganya

Anak itu adalah buah hati, paling disayangi orangtuanya, apapun yang terjadi, apapun kekurangan dan sakitnya.

Nyeri sedikit saja kalau bisa jangan, demam, batuk apalagi. Harus bisa memposisikan diri dan empati ke orangtua pasien. Bahkan tidak jarang harus banyak mengobrol, tidak hanya sekedar memberikan obat tapi edukasi yang panjang dan jelas.

Khususnya lagi, ketika kamu sedang galau dan sedih, tapi kamu adalah residen Anak...harus tetap tersenyum dan ceria di depan pasien. Pasang senyum 5 cm dah.

Ada saja orangtua yang tidak mengerti. Pernah ketemu orangtua yang ingin anaknya segera ditangani di IGD, padahal anaknya sudah diperiksa dan tidak butuh tatalaksana segera. Di sisi lain ada bayi 1000 gram yang sesak, tentu saja lebih memprioritaskan pasien bayi itu. Orangtua anak tersebut marah-marah dan komplain. Harus ekstra sabar pokoknya, yang dihadapin bukan hanya pasiennya saja, tapi ibu, bapak, nenek, kakek atau keluarga-keluarga lainnya. Menjelaskannya juga harus jelas dan pastikan mengerti.

Paling sedih kalau menghadapi pasien bayi, apalagi bayi yang terlahir dari sepasang suami istri yang berjuang mendapatkan anak bertahun-tahun lamanya. Bapernya bukan main.

Pernah ngerawat pasien dari program bayi tabung (penantian 5-10 tahun), pernah juga merawat anak ‘orang penting’, anak kembar yang kembarannya selamat tapi satunya tidak.



8. Seperti anak-anak

Salah satu teman seangkatanku ditanya ulang sama supervisor yang memberikan rekomendasinya saat masuk PPDS “Kamu yakin masuk Anak? Coba pikir-pikir dulu lagi deh...”

Terbiasa menghadapi anak-anak, sedikit banyak membuat sifatnya juga seperti anak-anak. *sebagian teks hilang*

 9. Tidak ada permintaan aneh

Kalau ada perundungan di bagian program studi lain, hampir kupastikan saat ini tidak ada di Anak. Kenapa? Ah memberikan order yang macam-macam itu tidak ada di kamus kami, pikiran kami lebeih banyak tentang pasien dibandingkan diri sendiri, kebanyakan order kami berhubungan dengan kepentingan/keselamatan pasien. Kalau senior marah karena hal yang membahayakan, itu wajar. Kalau senior memberitahu hal-hal benar yang mungkin tidak diketahui junior, itu bukan bully itu adalah bentuk perhatian karena kalau tidak dikasihtau, tidak ditegur mereka tidak tau mana yang benar dan salah. Hanya sesaat saja marah dan kesalnya, setelah itu semua akan balik lagi seperti biasa. Karena kami berusaha fair dalam hal menegur.

Sekali lagi bully tidak hanya tindakan, bisa juga tercetus dari lisan. Sebisa mungkin menegur dengan hati-hati agar tidak menyaki hati dan tidak mempermalukan. Jika tidak ingin diperlakukan tidak baik, maka jangan memperlakukan orang lain dengan tidak baik juga. Kalaupun ada order yang di luar perihal pasien, itu juga pasti sangat terpaksa dan bentuknya adalah minta tolong.

10.   Keseimbangan

Dari tadi ngomongin pasien mulu, jangan lupa ilmiahnya wkwkkw. ILMIAH ILMIAH ILMIAH. Harus bisa membagi waktu di antara kesibukan ngerawat pasien, printilan-printilan dokumentasi/berkas-berkas, visite, poli, jaga. Gak akan naik tingkat kalau ilmiahnya gak bener, gak semudah itu juga untuk lulus dalam ilmiah, tidak hanya hasil, tapi harus melalui proses yang benar juga. Pokoknya gimanapun caranya harus dikerjain itu ilmiahnya, mulai dari tahap junior sampe senior ilmiahnya tetep bikin pusing wkwk.

 

Kalau ada yang menanyakanku gimana jadi residen Anak, aku akan jujur-jujuran, ngomong apa adanya kalau capeknya luar biasa, belum lagi permasalahan dan tantangannya. Kalau sudah tau segala tantangan yang akan dihadapi nantinya, jika memang niat maka hatinya tidak akan goyah. Dia akan tetap mendaftar menjadi PPDS Anak.

Sama seperti seseorang yang sedang menulis ini, sudah tau sedikit ‘bocoran’ kehidupan yang akan dihadapi saat pendidikan, tapi tetap memilih, langkahnya memang tidak mulus, dia tetap bersyukur bisa masuk dan menjalaninya. Makanya kita berdoa tidak hanya dimudahkan saja urusannya, tapi diberikan kekuatan dalam segala ujian.

Kalau liat residen DV (kulit) cakep-cakep dan wangi banget, sementara ngeliat diri sendiri haduhh kucel, abis jaga kadang mandi aja gak sempat :( But that’s life, masing-masing pasti ada kelebihan dan kekurangannya, memilih spesialis itu sesuaiin ke diri masing-masing ya maunya sebenernya yang gimana sih.

So, kesimpulannya...

Ya jadi residen anak memang capek, stressful, banyak tekanan sana sini, hadeh hadeehh mulu, kadang nangis, tapiii setiap ngeliat pasien anak yang membaik setelah perawatan ada kebahagiaan tersendiri.

 

Palembang, 15 Maret 2026

 

Residen Anak yang harusnya menyelesaikan ilmiahnya tapi malah nulis cerpen ini (?)

Comments

Popular posts from this blog

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...