Pukul 22.00 lewat, ada line masuk
di grup loker daerah X
Aku memang sedang berada di
sekitar sini
Loker adalah singkatan dari
lowongan pekerjaan. Loker yang dimaksud disini adalah kesempatan menjaga di
klinik, atau menjadi dokter pengganti.
Setelah aku mencari tau jaraknya,
aku mengambil kesempatan untuk mengambil ‘job’ tersebut. Tanpa berpikir
panjang, karena itu sudah larut malam, aku sedang butuh uang, aku ingin bertemu
dengan pasien dan menerapkan ilmuku lagi.
Berbeda dari tempat asalku
kuliah, disini hampir semua klinik, jaganya 24 jam.
Singkat cerita, aku jaga dari
hari Sabtu jam 10.00 hingga Minggu malam. Jadi 24 jam ++ atas permintaan dari
dokter jaga tetapnya, dengan bayaran 2 hari. Lumayan pikirku. Lumayan capeknya
dan lumayan uangnya. Akhirnya aku pun mengiyakan, walaupun awalnya ragu.
Sabtu pagi, jam 10 kurang, aku
sampai di klinik itu.
Hmmm dari penampakannya,
sebenarnya klinik tersebut merupakan klinik kecil, bukan berada di daerah yang
terlalu ramai, bukan di pinggir jalan besar.
Oke. Kemudian aku masuk, disambut
dengan ramah oleh dokter X. Dokter yang menawarkanku job. Usut punya usut
ternyata beliau ingin liburan weekend itu, makanya dia mencari dokter
pengganti.
Ada juga laki-laki yang duduk di
luar ruang pemeriksaan, juga menyambutku dengan senyuman yang lebar. Dugaanku
dia adalah perawatnya.
Kesan pertama orang-orangnya
ramah dan baik.
Aku pun berkenalan dengan dokter
X dan ya standard dia menjelaskan kira-kira ngapain aja disana. Aku pun
dikenalkan dengan laki-laki tadi. Sebut saja namanya mas Bunga.
Tapi ada yang agak beda dari
biasanya, dokternya bilang “Kalau suntik pasien dapat tambahan lumayan loh,
infus apalagi... ada tuh pasien yang diinfus terus dirawatnya di rumah nanti
bisa divisit. Kalau bisa suntik-suntik aja dok, hehehehe.”
“ohhh ya ya” kataku. Hhh ya
sesuai indikasi juga lah yaa...
Tidak lama kemudian dokter
tersebut pamit pergi.
Tinggallah aku dan mas Bunga.
Dari perkenalan awal, aku tau kalau ternyata kami berasal dari daerah yang
sama. Istrinya juga dari Sumatera dan sedang menetap disana. Kami pun banyak
bercerita tentang daerah asalnya, juga tentang asal muasalku, institusiku, dan asal
muasal klinik.
Wah syukurlah orangnya asyik,
pikirku.
Ada satu hal yang ingin ku
sampaikan...
Setelah dia bilang SMP SMA di
daerah asalku. Aku pun bertanya dimana dia melanjutkan kuliah.
“saya sih bukan lulusan
kesehatan. Saya orang teknik di ........ mba. ya 15 tahun ngikutin di klinik ya
jadi tau banyak kan”
“ohhhh....”
Aku cuma bilang “ohhh”... aku
tidak meremahkan, sama sekali tidak, sungguh. Malah aku berpikir “hebat juga
ya, lulusan teknik bisa jadi ‘perawat’”. Aku jadi teringat cerita-cerita orang,
bahwa sebenarnya banyak yang seperti itu. Namun, aku saja yang baru kali ini
mendapatinya secara langsung.
Pasien pertama datang, selain dia
memang punya suatu keluhan, dia juga ingin mengecek kolesterol.
Sebagai orang baru di klinik yang
belum tau dimana, bagaimana, dan apa prosedurnya. Aku juga belum mendapatkan penjelasan
sebelumnya, kemudian aku bertanya kepada mas Bunga yang berada di luar ruang pemeriksaan.
“mas kalo cek kolesterol gimana
ya?”
“itu ada di dalam alatnya”
“ohh...dimana ya”
Dengan agak males-malesan dia
beranjak dari tempat duduknya yang berada di sebelah ruang pemeriksaan (hanya
dibatasin tembok), masuk ke dalam ruang pemeriksaan, mencari alatnya,
memberikannya kepadaku dan meninggalkanku yang kebingungan.
Bingung karena alat-alatnya
terpisah dan ya begitulahhh...
Dari situ aku mulai merasa tidak
enak, tapi apakah salah jika aku minta tolong? Salah jika aku bertanya?
Bukankah seharusnya, mas Bunga merasa dihargai karena aku sudah menganggapnya.
pasien kosong, setelah itu
tiba-tiba datang pasien anak-anak dibawa orangtuanya yang datang karena luka
robek di dahinya, cukup dalam.
Aku cukup bingung waktu itu. Anak
tersebut menangis, jangankan dijahit, aku mendekat saja sudah teriak teriak.
Sabaaar.... sabar.....
tenaaaang....
Akhirnya bisa dianestesi (dibius)...
Kebetulan yang sedang menjaga
saat itu mas Jala, adiknya mas Bunga. Selama aku hecting (menjahit) jujur aku
cukup kesulitan, ntah karena pasiennya yang nangis, akunya jadi agak deg-degan,
ahhh... tapi syukurlah akhirnya bisa juga.
Selang beberapa jam ada
Bapak-bapak yang datang ke klinik, jari telunjuknya berdarah banyak. Luka robek
juga, memanjang dan sepertinya juga dalam. Setelah aku coba bersihkan. Tentu
saja sendiri. Jangan harap ada bantuan. Aku mencari bengkok sendiri, cairan
untuk membersihkan sendiri, kassa, sementara darah terus menetes deras. Aku
coba menge’dep’ nya dengan cara menekan dengan kassa. Bukan apa-apa, kalau aku
tidak menghentikan perdarahannya sementara, aku tidak bisa melihat seberapa
dalam lukanya dengan jelas. Cukup lama, sampai akhirnya darah mulai mereda.
“Datanglah mas Jala, udah dok
langsung aja jahit”perintahnya.
“Iya... gimana mau jahit, minor
setnya mana ya? Itu kotor semua?” Aku menunjuk ke westafel.
“Yaudah tinggal bersihin aja.”
Katanya lagii. Sepertinya dia menyuruhku untuk membersihkannya sendiri.
“Iya, tapi gimana? Gak ada yang
lain?”.
Akhirnya dia pun membersihkan
itu. Jangan tanya gimana cara ngebersihinnya. Aku pun gak paham. Cukup heran
aja.
Setelah aku tanya ke pasien,
ternyata bapak tersebut punya alergi obat. Aku cukup was-was kalau menyuntikkan
lidokain (anestesi/obat bius lokal).
Aku pun bertanya, “mas adrenalin
ada?”
“gak tau sih, mungkin ada di
kulkas”
“ohiya minta tolong diambilin ya
mas kalo ada.”
Dia pun pergi...
Karena si Mas Jali pergi cukup
lama, gak datang-datang, akhirnya aku tetap menyuntikkan lidokain dengan bermodal
Bismillah. Mudah-mudahan aman.
Tidak lama kemudian, datang mas
Bunga. Dia tiba-tiba mengambil posisiku, menjahit lukanya.
Ku akui, dia lihai dalam
menjahit, cepat. Berbeda denganku yang masih bau kencur, pengalaman yang
mengajarkan dia segalanya.
Tiba-tiba dia bertanya kepadaku,
“adrenalin untuk apa dok?”
“iya mas, soalnya tadi pasiennya
bilang ada alergi obat penghilang rasa nyeri (analgetik).”
dengan ekspresi yang tidak bisa
kujelaskan, dia berkata “yahh kalo lidokain sih jarang”
“tapi jaga-jaga aja untuk
kemungkinan terburuknya. Kalo emang ada ya bisa disediain”
“ya skin test aja”
Okeee... Mungkin aku terlalu
naive.
Terserah mau bilang apa. Aku Cuma
takut kejadian syok anafilkatik. Berlebihan memang, tapi siapa yang bertanggung
jawab kalau itu terjadi?
Ohiya dia juga bilang “kalo
perdarahan banyak dok, langsung jahit aja dok, ntar darahnya juga berhenti
sendiri”
Hhh iya kalo pas lagi jahit,
darahnya masih banyak sementara gaada asisten yang bantu nge’dep’ gimana? Ribet
sendiri dong ya kan? Situ mah enak ada aku yang bantuin. Eh kebalik ya
harusnya? HAHA. ya okelahh, skill nya jauh lebih oke daripada aku.
Menjelang maghrib, kami ngobrol.
Dia banyak menceritakan tentang dokter-dokter sebelumnya yang jaga disitu.
Tidak salah lagi dari ceritanya banyak membanggakan dirinya sendiri. Selama 15
tahun ini, awalnya dia gak pernah hecting (jahit), cuma ngeliatin, tapi
lama-kelamaan dia tertarik dan langsung mencoba. Ternyata bisa. Bahkan dia bisa
sirkumsisi (sunat), insisi lipoma.
“infus aja yang belum bisa, karena
baru ngeliatin aja selama ini. Kalau udah dicoba pasti bisa sih, gampang
keliatannya” katanya.
“He he he....” kataku
“Ohiya dok. Biasanya sih sehari
dua hari batuk pilek nyeri tenggorokan dikasih antibiotik aja langsung. Disini
antibiotiknya masih amox, di klinik lain itu udah tinggi, cefixim, dll.
Persaingan sih. Dokter-dokter senior itu langsung main antibiotik aja dok. Biar
langsung sembuh. Ohiya obat sih biasanya tiga atau empatlah dok, itu ya
standardnya.”
Jleb..
“Dulu disini ada dokter jaga namanya
dr.Z. ahh gua malas sama dia, jaim. Sekalinya hecting gak bisa dan gak mau
bantuin lagi. Padahal kan honornya dia yang dapat bukan gua. Coba bayangin 13
jahitan gua sendiri yang ngerjain, dulu juga ada tuh gua jahit sendiri lukanya abis
kena rantai sepeda motor, dalam lebar lukanya. Kerjain aja sendiri, ngapain
dirujuk. Ah apa-apa dirujuk, kasihan pasiennya.”
Aku mendengarnya sambil
terkantuk-kantuk. Adzan maghrib sudah berkumandang 15 menit yang lalu. Mas
Bunga belum tampak mengurangi intensitas bicaranya. Dia masih semangat
bercerita sampai terbatuk-batuk. Aku cuma menimpali hmmm... ohhh... ya... hmmm.
Lalu aku sempat berpikir sepertinya dia sedikit banyak menyindirku.
Akhirnya daripada aku shalat Maghrib
di akhir-akhir waktu karena obrolan ngalor ngidul itu, ketika dia diam
sebentar, aku lalu memotong untuk izin shalat terlebih dahulu. Lalu aku balik
badan sambil nguap berkali-kali. Dia ikut shalat? Ntahlah. Bukan urusanku.
Malamnya pasien mulai banyak
berdatangan, hingga akhirnya sepi.
Lelah sekali malam minggu itu,
ingin segera tidur. Tapi anehnya aku malah baru bisa tidur pukul 02.00 pagi.
Padahal aku jarang mengalami kendala sulit tidur, kecuali memang sedang banyak
pikiran.
Keesokan paginya, aku masih
berusaha bersikap ramah.
Pagi menjelang siang, datang
pasien dengan keluhan nyeri tenggorokan. Ketika ku periksa tampak putih-putih
di sekitar tonsilnya. Ingat? Yang paling dikhawatirkan dari nyeri tenggorokan
adalah difteri, itu kata konsulen ku dulu sewaktu stase anak. Apalagi beberapa
bulan belakangan, difteri KLB.
Aku periksa dengan seksama,
putih-putih di tenggorokannya cukup banyak, tapi memang tidak seperti membran,
demam tidak terlalu tinggi.
Apa yang harus ku lakukan?
Yang terpikir waktu itu adalah
konsul ke teman sejawat yang lebih berpengalaman. Caranya? Harus foto klinis
terlebih dahulu.
Aku ingat salah seorang temanku
mendapat saran dari dokter seniornya, jika ada yang curiga difteri maka minta
tolong perawat saja untuk foto klinisnya.
Aku pun setuju.
“mas boleh minta tolong fotoin
tenggorokannya? Atau mas yang senterin deh, aku yang foto”
Pas aku minta tolong, dia lagi
duduk sambil mainhandphone, tidak melihat ke arahku.
Dia pun beranjak dari kursi
menuju ruang pemeriksaan.
Disana dia malah hanya berdiri
dengan lagaknya sambil main handphone, padahal aku sudah menyuruh pasien untuk
nganga dan menyenterinya.
“mas minta tolong....”
Tidak ada respon.
“mas .... mas...” suaraku mulai
agak kencang, dengan asumsi mungkin dia tidak mendengar panggilanku sebelumnya.
“hmmm... yaudah sini aku aja yang
nyenter. Emang gak bisa pake flash? Yah gak keliatanlah dok difoto”akhirnya dia
menjawab.
“susah mas kalo pake flash malah
kurang jelas, aku minta tolong yaaaa”
Gak tau gimana ceritanya, dia
malah pergi keluar.
Hhhh aku merasa sangat tidak
dihargai saat itu.
Akhirnya aku sendiri yang foto
pake flash, dan benar saja fotonya jadi kurang jelas. Maksudku, kau tau kan
kalau foto pake flash? biasanya ada bagian yang gelapnya. Cahayanya tidak
merata. Tapi untunglah setidaknya aku ada dokumentasinya.
Setelah konsul dengan yang lebih
berpngalaman, akhirnya aku disarankan untuk edukasi dan merujuk ke spesialis
THT. Aku tau itu Cuma saran, bisa aku lakukan atau tidak, yang melihat klinis
pasien secara langsung adalah aku. Aku adalah pembuat keputusannya.
Aku menjelaskan bahwa untuk lebih
pastinya, ada pilihan dirujuk kemudian dilakukan pemeriksaan apusan
tenggorokan. Keluarga pasien menolak untuk dirujuk, kemudian karena aku juga
masih ragu secara klinis difteri atau tidak, mirip dengan infeksi bakteri non
difteri juga. Aku kasih antibiotik, dan 3 hari harus balik lagi kesini untuk
kontrol. Tiap harinya harus dilihat, putih-putih yang ada di tenggorokan makin
banyak atau tidak. Aku pun menjelaskan panjang lebar agar pasien mengerti dan
tidak terjadi hal yang buruk.
Setelah pasien pergi, aku
bertanya kepada mas Bunga.
“Mas, biasanya kalau ngerujuk
kemana ya?”
“bebas....”jawabnya dengan muka
datar, sambil lihat hp, dan tanpa melihatku!
“ya maksud saya RS nya apa aja?
Kan saya gak tau daerah sini!” aku mulai memperlihatkan kesal tapi sebisa
mungkin bicara dengan intonasi biasa. Padahal dia sudah tau aku baru disini dan
ini bukan daerah asalku.
“ya...RS ini bisa, RS T sih tapi
biasanya yang lebih bagus”
“ohh.. ya nah itu”
Aku kesal dan masuk ke ruang
jaga.
Kemudian ada anak dengan BAB cair
dan berlendir
Aku memberikan beberapa obat
termasuk antibiotik Z... dan oralit
Sebenarnya aku juga ragu,
antibiotik Z ada atau tidak. Tapi mengingat saat aku pendidikan, antibiotik itu
masih dipake dan dikombinasikan.
Kemudian dijawab dengan ketus “gak
ada, obat jadul... adanyaa obat X, Y.....”
“tapi masih dipake loh mas biasanya
untuk anak-anak, yaudah obat Y aja”
Disitu aku juga baru tau, mungkin
aku belum cukup berpengalaman.
Atau aku sudah terlalu lelah,
sampai aku tidak bisa mikir antibiotik lainnya pada saat itu? Ntahlah yang
jelas aku sudah meresepkan obat jadul. HAHAHAHA. Tapi sekilas aku melihat bahwa
dia tidak memberikan oralit, ntah mungkin tidak ada. Tapi dia menggantinya
dengan yang lain. Hmmm... mungkin cuma prasangka ku saja.
Malam tadi ada satu pasien tinea
kruris. Aku memberinya obat jamur salep dan obat untuk mengurangi gatalnya. Kamu
tahu kenapa aku tidak memberikan obat oral jamur (obat yang diminum), itu
karena lesi jamurnya sedikit, dan jika kuberikan pasti ada efek sampingnya.
Coba pake salep dulu maksudku, jika memang tidak membaik dengan itu dan
perubahan gaya hidup. Bolehlah dicoba minum obat jamur. Tapi aku melihat mas Bunga
memberikan dua obat yang diminum.
“Semua obatnya diminum abis makan
ya”
Ohhh jadi nambah-nambahin obat.
Hebat jugaaa....
Ada pasien yang kuberi dengan dua
obat saja. Kemudian dia bertanya “obatnya ini aja?”
“iyaaa... mau apalagi? Keluhannya
itu aja sih”
Tadinya mau kujawab bukannya
nanti juga akan ditambahin sendiri? Aku sudah malas berbicara dengannya, malah
makin kesal.
Aku tau aku akan terlihat sangat
menyedihkan dan memalukan jika aku marah apalagi di depan pasien. Emosi akan
semakin tidak terkontrol. Aku cuekkin saja.
Dokter jaga tetap pun datang.
Mas bunga berubah menjadi orang
yang ramah penuh senyum dan memberikan uang honorku. Aku pun mengambilnya,
ngobrol sebentar dengan dokter tetap, dan aku pamit pulang dijemput ojek online.
Aku tidak tahan lagi ingin bebas dari sana.
Di perjalanan pulang, aku
disenggol oleh mobil yang mengambil jalur ke arah berlawanan.
Sikuku sepertinya terkena spion
mobil tersebut, kecepatannya cukup tinggi, aku sampai kaget, nyeri karena
mengenai tulang keringku, siku.
Ujian apalagi ini Tuhan....
Tapi sepersekian detik kemudian
aku harus tetap bersyukur, tidak berdarah, tidak ada pergeseran tulang, tidak
ada yang retak.
Abang Ojol pun segera
meminggirkan sepeda motornya, dia bertanya apakah ada luka dan menawarkan untuk
mampir apotek untuk membeli obat.
Aku rasa itu bukan salah abang
Ojol, aku pun menolak untuk mampir apotek. Aku cuma pengen cepat sampai rumah
saat itu.
Vulnus excoriatum tidak ada
rasanya dibandingkan dua hari ini. Cukup meninggalkan lebam dan nyeri. MERDEKA!
Itu yang penting hahahaha.
Dua hari kemudian aku di WA dokter tetap di klinik tersebut,
intinya adalah minta tolong untuk menggantikannya. Jelas aku mengatakan tidak
bisa, selain karena memang beneran tidak bisa, aku juga tidak mau lagi.
Sekian.
Dari cerita panjang tadi
kira-kira pelajaran yang dapat diambil adalah:
1. Saling
menghargai antara tenaga medis dan paramedis. Ntah itu fresh graduate atau senior.
2. Pengalaman
itu merupakan bagian penting. Tapi tidak juga semata-mata menjadikan kita
‘dewa’
3. Carilah
info terlebih dahulu kalau mau menggantikan jaga di klinik, apalagi di tempat
yang belum kita kenal.
4. Hidup
ini penuh dengan intrik. Semuanya butuh uang. Tapi jangan selalu berpikiran
tentang uang, ada hal lain yang perlu dipikirkan.
5. Jika
ada orang yang lebih ahli di bidangnya, silahkan kamu bertanya terlebih dahulu
mengapa dia melakukan itu.
6. Kepada
pasien sebaiknya kita selalu
mempertimbangkan harm dan benefit
7. Ini
adalah realita. Mungkin aku saja yang tidak cocok dengan segala aturan itu.
Mungkin banyak di luar sana yang bisa lebih flexible menerimanya.
8. Sabar
9. Jangan
menyesali pilihan, setiap pilihan punya resiko. Tinggal bagaimana mempertanggungjawabkannya
dan bersyukur #prinsip
Comments
Post a Comment