Skip to main content

Purwokerto (1)


In case you wanna know a piece of my story about.....
Purwokerto

Awalnya aku tidak tau dimana letaknya, di provinsi apa?
Sama sekali belum ada gambaran
Pertama kali nama itu ku dengar dari teman sekelasku yang ingin mengajukan SNMPTN Undangan kesana. Aku pun bertanya, kemudian jadi sedikit tau.
Setelah aku diterima di universitas negeri disana, aku mulai banyak mendengar cerita-cerita tentang kota domisili ku nanti.
Katanya bahasanya jawa ngapak.
Katanya kotanya adem. Dingin.
Katanya kotanya masih sepi.
Katanya kotanya di bawah kaki pegunungan.
Ke Purwokerto saja aku belum pernah. Cara akses dari Jambi ke Purwokerto juga masih jadi pertanyaan terbesar.
Dari info sana-sini akhirnya tau bahwa akses termudah adalah naik pesawat ke Jakarta, dilanjut naik Damri ke stasiun Gambir, lalu lanjut naik kereta api ke Purwokerto.
Untungnya aku memang suka jalan-jalan dan merasa setiap perjalanan pulang maupun pergi perantauan ada tujuannya. Demi menuntut ilmu. Dibawa santai dan aku memang menikmati.
Kelak temanku akan komentar “yampun berarti selama ini kalau pulang ganti-ganti transportasi ya. Mulai dari pesawat, bus, sama kereta api” hahhaha aku pun cuma nyengir mengiyakan
Singkat cerita aku ngekos di salah satu kosan yang cukup besar. Bukan. Bukan kamar kosnya yang besar. Tapi banyak. Disambut dengan hangat oleh teman-teman baruku.
Kalau kau mendengar orang asli Purwokerto bicara dengan logat ngapaknya yang khas, mungkin agak menggelitik.
Itulah salah satu khasnya, ketika sampai disana, banyak orang yang akan membantumu dan berbicara dalam bahasa jawa ngapak, di sekitar jalan besarnya tampak beberapa bangunan tua, jalannya cukup lebar, pohon rindang masih banyak, seperti Yogya. Ya itulah kesan pertamaku. Mungkin berbeda denganmu atau dengan mereka.
Tahun 2012, pertama kali aku menginjakkan kaki disana. Belum ada mall besar yang sekarang sudah dibangun di depan alun-alun itu, dulu hanya ada semacam swalayan besar. Belum ada ojek online, awal masuk kuliah, becak adalah andalan aku dan teman-temanku. Angkot di sekitar kampusku jarang sekali. Cuacanya panas kata teman-temanku yang berasal dari daerah jawa barat, tapi bagiku itu masih biasa saja, tidak sepanas di daerah asalku. Kalau sedang musim hujan, yang sering terjadi adalah hujan deras dengan angin yang kencang disertai petir yang menyambar. Ya bisa sebegitu ekstrimnya. Mendoan dan soto sokaraja adalah makanan khasnya, aku sangat menyukai mendoan dan cukup menyukai soto sokaraja. Mendoan adalah tempe yang diiris tipis, digoreng tepung namun digoreng setengah matang. Soto sokaraja adalah seperti soto pada umumnya, yang khas adalah makannya dicampur dengan bumbu kacang. Jangan lupakan ayam penyet, ah rasanya banyak aneka makanan disana, tapi tetap saja, 5,5 tahun disana dengan makanan yang itu-itu saja juga lama lama bosan, kan?
Aku bukan pribadi yang mudah bergaul, namun karena aku datang ke kota ini ‘sendiri’ tanpa teman yang ku kenal sejak SMA, maka mau tidak mau aku harus bisa membuka diri, menyapa duluan, berkenalan dengan teman-teman baru. Syukurlah banyak yang friendly, sehingga aku pun tidak kesulitan untuk menemukan teman baik.
Tanya saja dulu aku waktu SMP, SMA apakah aku aktif dalam organisasi, menonjol dalam berbagai kegiatan, gaul, terkenal dan banyak temannya. Jawabannya pasti tidak. Lalu ntah mengapa sejak kuliah aku mulai tergerak untuk mengikuti berbagai kegiatan dan aktif dalam organisasi.
 



Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...