In case you wanna know a piece of my story about.....
Purwokerto
Awalnya aku tidak tau dimana letaknya, di provinsi apa?
Sama sekali belum ada gambaran
Pertama kali nama itu ku dengar dari teman sekelasku yang
ingin mengajukan SNMPTN Undangan kesana. Aku pun bertanya, kemudian jadi
sedikit tau.
Setelah aku diterima di universitas negeri disana, aku mulai
banyak mendengar cerita-cerita tentang kota domisili ku nanti.
Katanya bahasanya jawa ngapak.
Katanya kotanya adem. Dingin.
Katanya kotanya masih sepi.
Katanya kotanya di bawah kaki pegunungan.
Ke Purwokerto saja aku belum pernah. Cara akses dari Jambi
ke Purwokerto juga masih jadi pertanyaan terbesar.
Dari info sana-sini akhirnya tau bahwa akses termudah adalah
naik pesawat ke Jakarta, dilanjut naik Damri ke stasiun Gambir, lalu lanjut
naik kereta api ke Purwokerto.
Untungnya aku memang suka jalan-jalan dan merasa setiap
perjalanan pulang maupun pergi perantauan ada tujuannya. Demi menuntut ilmu.
Dibawa santai dan aku memang menikmati.
Kelak temanku akan komentar “yampun berarti selama ini kalau
pulang ganti-ganti transportasi ya. Mulai dari pesawat, bus, sama kereta api”
hahhaha aku pun cuma nyengir mengiyakan
Singkat cerita aku ngekos di salah satu kosan yang cukup
besar. Bukan. Bukan kamar kosnya yang besar. Tapi banyak. Disambut dengan
hangat oleh teman-teman baruku.
Kalau kau mendengar orang asli Purwokerto bicara dengan
logat ngapaknya yang khas, mungkin agak menggelitik.
Itulah salah satu khasnya, ketika sampai disana, banyak
orang yang akan membantumu dan berbicara dalam bahasa jawa ngapak, di sekitar jalan
besarnya tampak beberapa bangunan tua, jalannya cukup lebar, pohon rindang
masih banyak, seperti Yogya. Ya itulah kesan pertamaku. Mungkin berbeda
denganmu atau dengan mereka.
Tahun 2012, pertama kali aku menginjakkan kaki disana. Belum
ada mall besar yang sekarang sudah dibangun di depan alun-alun itu, dulu hanya
ada semacam swalayan besar. Belum ada ojek online, awal masuk kuliah, becak
adalah andalan aku dan teman-temanku. Angkot di sekitar kampusku jarang sekali.
Cuacanya panas kata teman-temanku yang berasal dari daerah jawa barat, tapi
bagiku itu masih biasa saja, tidak sepanas di daerah asalku. Kalau sedang musim
hujan, yang sering terjadi adalah hujan deras dengan angin yang kencang disertai
petir yang menyambar. Ya bisa sebegitu ekstrimnya. Mendoan dan soto sokaraja
adalah makanan khasnya, aku sangat menyukai mendoan dan cukup menyukai soto
sokaraja. Mendoan adalah tempe yang diiris tipis, digoreng tepung namun
digoreng setengah matang. Soto sokaraja adalah seperti soto pada umumnya, yang
khas adalah makannya dicampur dengan bumbu kacang. Jangan lupakan ayam penyet,
ah rasanya banyak aneka makanan disana, tapi tetap saja, 5,5 tahun disana
dengan makanan yang itu-itu saja juga lama lama bosan, kan?
Aku bukan pribadi yang mudah bergaul, namun karena aku
datang ke kota ini ‘sendiri’ tanpa teman yang ku kenal sejak SMA, maka mau
tidak mau aku harus bisa membuka diri, menyapa duluan, berkenalan dengan
teman-teman baru. Syukurlah banyak yang friendly,
sehingga aku pun tidak kesulitan untuk menemukan teman baik.
Tanya saja dulu aku waktu SMP, SMA apakah aku aktif dalam
organisasi, menonjol dalam berbagai kegiatan, gaul, terkenal dan banyak
temannya. Jawabannya pasti tidak. Lalu ntah mengapa sejak kuliah aku mulai
tergerak untuk mengikuti berbagai kegiatan dan aktif dalam organisasi.
Comments
Post a Comment