Skip to main content

HIGHLIGHT OF 1/2 2018


21 Juni 2018
Hari ini, bulan ini, sudah setengah jalan di tahun 2018. Tahun dimana harus melewati beberapa fase besar, banyak merasakan pergejolakan batin. Mari kita mulai beberapa kilas balik kisahku dari awal tahun ini.


Januari 2018.
Bulan lalu, saat masih tahun 2017, aku dan teman-temanku dinyatakan lulus sebagai dokter setelah mengikuti Ujian Kompetensi. Aku pernah menceritakan perjuangan menghadapi ujian itu di tumblr yang saat ini sudah diblokir. Baiklah, setelah dinyatakan lulus, maka kami pun bersiap untuk mengadakan sumpah dokter. Aku bilang mengadakan, karena dari kami lah panitianya, aku masuk ke panitia “D3 (Design, Dokumentasi, Dekorasi)”. Awal bulan disibukkan dengan berbagai persiapan dan kerempongan foto-foto. Yak sampailah di hari H Sumpah Dokter. Sumpah dokter merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa kedokteran. Begitulah, lafalnya tidak hanya sekedar dilafalkan tapi diresapin hingga ke aliran darah #tsaah. Di momen ini, alhamdulillah papa, mama, adek-adek bisa datang. Haha adek-adek pada bolos sih, demi ke acara sumdok....dan jalan-jalan. Rasanya terharu, bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran, melihat orang tua terharu dan bangga sama kita, melihat para konsulen yang hadir juga ikut terharu dan teringat segala kenangan saat koass, maupun preklinik. Alhamdulillah lagi, setelah sumdok, kami sekeluarga bisa jalan-jalan sebentar ke Yogya. Cukup dadakan tapi seru, sempat juga mengelilingi Purwokerto yang punya banyak kenangan itu hehe.
Beberapa minggu setelahnya, aku mulai merasa hidup kok begini-begini amat. Okelah, kadang jadi dokter pengganti di beberapa klinik (belum jadi dokter tetap), sering merasa bosan, dan ingin mencari sesuatu yang lain, yang lebih greget tentunya. “aku pengen magang ah...”. karena aku cukup tertarik dengan bidang penyakit dalam, maka aku pun melamar magang menjadi asisten penelitian dokter subspesialis di salah satu RS...di Jakarta. Sesumbar emang si Ami, main apply aja tanpa tanya-tanya lebih lanjut kerjaan disana ngapain aja, fee nya berapa, dan belum mikirin disana sama siapa, bahkan belum bilang ke orang tua. Soalnya pesimis diterima juga sih waktu itu.

Februari 2018
Awal februari merupakan momen yang absurd menurutku. Aku dikabarin bahwa aku diterima magang. HAAAAAH? SERIOUSLY? Speechless dan masih gak percaya aja gitu. Ya senang banget sih waktu itu. Aku ngabarin temen-temenku saat itu, inget banget waktu itu janjian makan sama Kiki dan Mita, dan mereka ikut senang, sekaligus sedih... sedih karena itu artinya aku gak bakalan di Purwokerto lagi, pergi dari kota ini ke Jakarta, susah ketemunya, sementara mereka masih tetap stay disana menyelesaikan sisa koass yang sedikit lagi selesai. Ahhh disitu rasanya perpisahan terasa begitu nyata. Bener-bener nyata. Lebih nyata dari kesepian yang beberapa minggu belakangan aku rasakan di kosan. Berpisah dengan teman-teman. Sejujurnya aku sempat nangis diam-diam hehe.
Dibalik itu semua, ada masalah besar yang harus aku hadapin. Aku mendadak disuruh ke Jakarta, sementara saat itu weekend dan tiket kereta habis! Ada juga tiket kereta tapi sampainya subuh, dan aku belum terlalu berpengalaman di ibukota, wait...emang tujuanku kesana kemana ya? Hm...
Baiklah, singkat cerita, ada malaikat penolong (haha yeay!), akhirnya aku sampai di Jakarta dengan lega, tanpa terburu-buru, tanpa perasaan cemas dan takut (eh tetep ada sih sedikit, ya namanya mau hidup di ibukota). Kalau boleh jujur, aku ini sebenarnya bukanlah anak yang terbuka ke orangtua. Seringkali mengambil keputusan sendiri, aku tau aku sudah dewasa, tapi berdiskusi dengan orang tua itu jarang sekali aku lakukan. Kelak aku akan sangat menyesalinya, karena itu sangat perlu.
Alhamdulillah, Allah mempermudah jalanku. Disana aku tinggal di rumah tante di daerah Tangerang, yang kebetulan akses transportasi umumnya gampang ke RS tempatku magang.
Aku mulai magang menjadi asisten penelitian untuk sebuah kasus hematoonkologi, awalnya serba canggung, gak tau tempatnya dimana, gak tau orang-orangnya siapa aja, belum punya teman.
Sampai akhirnya memberanikan diri untuk kenalan dengan teman magang juga, sok kenal sok dekat banget deh si Ami, demi punya teman disitu haha. Perkenalan pertamaku dengan kak F, kedokteran swasta di Jakarta angkatan 2010, sudah sekitar 3 bulan magang disitu. Kedua adalah Y, bukan anak kedokteran, melainkan kesehatan masyarakat angkatan 2013.
Cerita magangku untuk lebih detailnya mungkin akan kutulis khusus di tulisan berikutnya.

Maret 2018
Aku bersiap untuk wisuda, ya setelah sumpah dokter ada wisuda yang digabung dengan seluruh fakultas di universitasku.
Pokoknya pas wisuda aku bener-bener sendiri. Hehe orang tua gak dateng, karena aku juga minta buat gak dateng, alesannya karena memang jauh, dan sebenarnya momen wisuda ini hanya suatu formalitas buat kami anak kedokteran yang sudah dinyatakan lulus sewaktu sumpah dokter. Tapi tetap saja ini merupakan suatu kewajiban.
Satu hari menjelang wisuda, sahabatku Banun nginep di kamarku, berhubung dia lama pindah dari kos. Kami keliling Purwokerto sambil mengurus berkas dan toga untuk wisuda, sambil mengucapkan perpisahan untuk kota perantauan ini. “Banyak kenangan ya disini Mi... kapan lagi coba bisa kesini?” kata Banun. Aku hanya diam, sedih juga ternyata harus berpisah dari kota perantauan ini.
Setelah survey akhirnya aku memutuskan untuk mengirim barang-barangku via kantor pos karena harganya yang lebih terjangkau dan juga terpercaya. Sempat survey ke beberapa bus lintas pulau, tapi ternyata harganya lebih tinggi.
Seharusnya aku sudah packing barang-barang untuk pindahan, tapi ternyata sulit sekali untuk memilah milihnya. Rasanya semuanya penting! Rasanya semuanya gak beres-beres! Dalam hal packing dan angkat beban(?) dibantu sama Banun. Bener-bener stress sih, belum beres sementara targetnya pas wisuda sudah bersih.
Malam sebelum wisuda, 3 kotak kardus dikirim ke kantor pos.
Subuhnya, keluarga Banun datang dan Banun izin pamit karena akan datang wisuda bersama keluargnya.
Memang dasarnya telat bangun, padahal make up sendiri. Kemudian dibantu sama tetangga kamar kos, Putri. Yaahh bisa apa aku tentang make up haha masih tau yang dasar-dasarnya aja. Tapi ternyata aku kesiangan, pergi sendiri dan nyetir sendiri dengan pinjeman mobil kak Tami, ternyata membuatmu tidak aware akan waktu. Semakin siang, tapi untungnya ada seseorang yang kesiangan juga walaupun ujung-ujungnya aku yang nunggu lagi di tempat parkir karena malu kalau masuk ke gedung sendirian pas yang lain udah pada duduk :’) wkwk.
Acara wisuda ya gitu-gitu aja. Sambutan-sambutan-sambutan-sambutan-salaman ke pejabat universitas-pidato lagi.
Setelah selesai wisuda, seperti biasa ritual foto-foto. Tapi tidak serame pas wisuda sarjana, kali ini sulit mengumpulkan massa.
Sorenya aku melanjutkan beres-beres kosan lagi, tapi sakit kepala menyerangku. Sakit sekali, hingga akhirnya aku memutuskan untuk istirahat dulu, aku mencoba tidur, tapi sulit. Sampai maghrib aku tidak bisa apa-apa. Akhirnya malam itu aku minum obat pereda nyeri kepala dan tidur. Bodo amat tentang barang yang belum dipacking.
Keesokan subuh, aku bangun lebih segar, setelah shalat aku pun melanjutkan packing. Hmm tiket kereta ke Jakarta ku sekitar pukul 09.00 WIB waktu itu haha sementara aku harus menyelesaikan barang-barang ini, mengirimnya ke pos, mandi, pamitan, balikin mobil ke kak Tami. Sungguh pagi yang hectic. Aku tidak banyak pikir, langsung ku selesaikan satu persatu, 3 kotak kardus telah dipacking, masih ada sisa-sisa printilannya. Oke tidak apa ada sisa printilan, nanti akan dibereskan oleh Mama yang akan datang ke sini lagi tanpa aku (ada keperluan dari Jakarta). Aku sungguh terburu-buru pagi itu, tidak sempat pamit ke ibu kos, salaman. Ya kalau diinget-inget itu sesuatu yang luar biasa, dengan kekuatan doa akhirnya sampe di stasiun dengan tepat waktu (re: mepet). Bye Purwokerto. Aku akan sangat merindukan kota ini. Jangan ditanya sedihnya bagaimana, yang jelas aku sempat meneteskan air mata diam-diam (lagi) di kereta.
Itulah yang kuingat dari bulan Maret, perpisahan.
Di Jakarta aku sering merasa bosan, aku pun mengumpulkan teman-teman SMA yang lagi di Jakarta untuk sekedar bertemu, ngobrol, dan jalan-jalan.
Ohiya satu lagi, di bulan ini teman-teman mulai ngomongin masalah internsip. Huft. Aku mulai gusar, pertanyaan “mau internsip dimana?” dari pertengahan Maret hingga akhir Maret sering terdengar.

April 2018
Hari demi hari berlalu, aku belum juga bisa menentukan pilihanku. Aku mencoba tenang. Membuat list pilihan, menjumlah lulusan universitas di beberapa daerah yang akan kupilih, mencari warnet yang sekiranya lancar, mencari informasi dari kakak kelas atau yang sudah berpengalaman. Sayangnya aku tidak terlalu melibatkan orangtuaku disini, komunikasi menjadi hal yang cukup menghalangi kami. Dan pada ujungnya orangtuaku bilang “terserah...kamu tau yang terbaik buatmu”. Aku semakin bingung, sebenarnya aku sedih karena mereka tidak menahanku untuk kembali ke daerah asalku, kumpul bersama mereka. Aku tau memang risikonya besar untuk memilih internsip pada saat pemilihan nasional, dimana asal kampusku dan daerah asalku itu menyeberang pulau, aku memang bilang itu ke orangtuaku. Tapi lagi lagi, aku tidak memastikan apakah mereka benar-benar paham dengan sistem pemilihannya, apakah mereka paham dengan perasaanku, apakah aku paham dengan yang sebenernya mereka pikirkan.
Aku merasa kecewa karena tidak dipertahankan untuk kembali berkumpul bersama mereka. Aku ini ternyata sensitif juga ya, tapi seringnya dipendam aja gitu J
Selain itu, aku juga punya alasan mengapa sebaiknya aku stay di sekitar Tangerang. Alasan yang tidak terlalu masuk akal, tapi...sulit untuk diceritakan.
Seminggu sebelum pemilihan, aku belum menetapkan pilihan.
Tiga hari sebelum pemilihan, sudah ada beberapa pilihan. Selama beberapa hari sebelum pemilihan, mukaku terlihat masam sekali, sulit tidur, nafsu makan menurun, kepikiran terus.
Ya aku memikirkannya terus. Sendiri. Sebagian besar.
Yasudah, singkat cerita, aku malamnya aku berpikiran untuk mundur ke pemilihan nasional. Tapi beberapa orang menyarankan aku untuk coba ambil disekitar sini dulu, yang regional.
Paginya, aku pergi ke warnet dengan perasaan yang masih galau.
Kalau memang nantinya aku dapat membuka website dengan cepat, mungkin itu jalanku untuk memilih hari ini. Aku bertekad hanya memilih Jabodetabek + Banten saja. Semoga itu yang terbaik. Ternyata punyaku termasuk cepat terbuka tapi pilihan jabodetabek sudah habis, dan sisa Lebak, Banten. Karena sepertinya sulit untuk berpikir jernih lagi, maka aku pun mengklik dan terpilihlah daerah itu. Tanpa pernah tau seperti apa daerahnya, siapa teman-temannya.
Setelah mengklik, apakah aku sempat menyesal setelah itu?
Kalau aku jawab tidak maka aku berbohong
Ya
Awalnya aku sok kuat, terlihat baik-baik saja
Padahal jauh di dalam diri ini tersimpan penyesalan
Tentu.
Ah sudahlah, aku tidak perlu berpura-pura ke diri sendiri
Jujur saja terhadap apa yang kamu rasakan.
 
Mei 2018
Aku menyelesaikan magang, pulang ke kampung halaman, dan bertemu dengan keluargaku. Aku menjalankan ibadah puasa Ramadhan disana, menepi dari rasa sedih dan galau.
Disana aku mendapati diriku lebih bahagia bisa berkumpul sama keluarga intiku, merasakan kehangatan beberapa minggu sebelum pergi untuk merantau lagi.
Lagi-lagi rasanya sakit, penyesalan itu terus datang menghantui ketika sudah mendapatkan kehangatan namun harus dilepas

Juni 2018
Awal Juni akhirnya aku pergi lagi dari kampung halamanku, merantau untuk kesekian kalinya.
Aku dan mama mulai survey tempat internsipku, akses dari rumah tante terbilang masih mudah, syukurlah..
Aku mulai mendapatkan teman, alhamdulillah aku masih diberi kemudahan, setidaknya aku bisa mendapat tempat kosan, teman kosan
Hari pertama pembekalan internsip merupakan hari yang mendebarkan
Seperti gak punya semangat, tapi mau gak mau harus dijalanin. Pasti bisa...pikirku
Hari pertama pembekalan, paginya mama pulang, aku mengantarnya dengan perasaan sangat sedih untuk berpisah lagi.
Mau tidak mau, aku harus melepaskan mama.
Mata beliau sudah merah dan berkaca-kaca
Tuhan....aku tidak sanggup menghadapi hal seperti ini
Setelah beliau pergi
Aku seperti ditelan gelombang kesepian
Sepi
Senyap
Tersisa ruang kosong
Hingga air mata mengalir deras diam diam
........
Beberapa jam kemudian
Aku terkena macet.
“Sial!” padahal di google maps tinggal 10 menit lagi, tapi karena macet udah hampir setengah jam dan mulai mendekati jam pembukaan sih. Aku berdoa sepanjang jalan, dan akhirnya sampai sangat tepat waktu. Huft syukurlah.
Sekitar dua hari aku bertemu dengan beberapa teman yang akan menjalani internsip di daerahku dan daerah tetangga.
First impression aku sih fine ya. Anaknya pada gaul-gaul, tapi tetap ramah kok, saling menyapa.
Besoknya, kami bergabung bersama teman-teman sekelompok kecil.
Saat itu rasanya memang sangat merasakan perbedaan dengan teman-teman kuliahku.
Sulit menjelaskan perbedaannya.
Tapi aku sepertinya belum pernah menemukan tipe yang seperti itu.
Mau tidak mau aku harus bisa beradaptasi, walau sulit, dan meningkatkan ambang kesesitivan akan perasan yang sesungguhnya rapuh ini (?)

Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...