Skip to main content

Menjelajah Tanjung Lesung


Menjelajah sebuah pantai di Pandeglang

Tanjung Lesung

Beberapa minggu yang lalu (Oktober 2018), aku dan teman-temanku mengunjungi sebuah pantai di Pandeglang, Banten.
Sebuah perjalanan yang akhirnya fix beberapa jam sebelum berangkat.
Butuh waktu beberapa hari sampai seminggu untuk memastikan rencana mau liburan atau jalan jalan kemana. Maklum, kami adalah sekumpulan dewasa muda yang ababil (?) ingin melepas penatnya hiruk pikuk ibukota dengan cara jalan-jalan dan piknik ala-ala.
Mau mikirin jalan-jalan kemana aja ribet sampe pusing kan. Mau ngurangin pusing akibat aktivitas padat, tapi malah tambah pusing karena mikirin mau ngapain dan kemana refreshingnya. Wkwkwkk. Baiklah, Jumat malam sekitar jam 11, akhirnya aku pun mem-fix kan ke grup kalau besok pagi kita akan pergi ke pantai. Tapi semuanya harus bangun pagi, karena harus naik KRL paling pagi, yaitu 05.50 dari stasiun tanah abang.
Aku pun browsing pantai yang akan dituju, begitupun teman-temanku. Wahhhh bagus-bagus banget foto di pantai tersebut. Aku juga menanyakan temanku yang asli Banten jalan menuju kesana, minimal tau daerah apa saja yang akan dilalui dan gambaran keadaan jalannya.
Setelah semua setuju, malam itu aku pun tidur.
Sekitar pukul 04.30 aku bangun tidur, shalat, dan membangunkan teman-temanku via WA atau telpon.
Semuanya harus tepat waktu. Karena kalau ada satu saja ketinggalan KRL, maka rencana kita akan berantakan. Ciaaahh lebay sih.
FYI, aku lagi berada di Rangkasbitung, Banten. Waktu tempuh dari Jakarta (Start dari stasiun tanah abang) ke Rangkasbitung jika menggunakan KRL adalah 2 jam. KRL rute ini, hanya tersedia  kuranglebih 1 jam sekali. Rangkasbitung itu merupakan stasiun pemberhentian paling ujung. Dari Rangkasbitung ke Pantai Tanjung Lesung, Pandeglang diperkirakan sekitar 2,5 jam. Jadi daripada kita pergi terlalu lama, dan nyampe di pantai pas tengah hari jadi harus pergi pagi.
Dengan segala drama, satu persatu membalas chat di grup WA.


  • Wida, koass gigi akhir univ negeri di Jakarta, paling jauh jaraknya. Wida mesti berangkat dari Depok jam 5 kurang! HA HA tapiii berhasil dooong dia melawan rasa mager dan ngantuknya.
  • Alin, auditor ibukota, tadinya dia gak mau ikut. Karena gak pengen pulang kemaleman atau gak mau ikut karena takut nginep terkait perizinan dengan tante dan omnya. Akhirnya setelah dibujuk oleh kami, dia pun jadi ikut. Yeaaayy.
  • Mutia, officer ibukota, paling bersemangat kalau diajak jalan-jalan dengan kondisi apapun pokoknya hampiiir selalu mau dan bisa.
  • Tiek, koass gigi akhir di Univ swasta Jakarta, nah ini anak awalnya nongol di grup WA, tapi berikutnya gak ada kabar. Yang lain udah sampe di stasiun tanah abang, dia gak jelas keberadaannya, beberapa menit kemudian, ternyata dia masih otw naik ojol, gilsss kan bikin deg-degan. Sementara KRL kan ontime banget, huffft last minute akhirnya dia masih keburu masuk kereta.

Setelah memastikan semua temenku tidak ketinggalan kereta, aku pun mandi dan siap-siap.
Pukul 08.00
Welcome to stasiun Rangkasbitung.
Sebagai gambaran nih, stasiunnya itu kecil, mobil tidak bisa masuk ke depan stasiun, jadi harus parkir di luar stasiun yang berjarak sekitar 300 meter, kalau mau masuk stasiun, kalian harus melewati pasar tradisional dulu, jalannya juga bukan jalan aspal, banyak jalan berlubang, dan sering becek.
Kami sarapan dulu seadanyalah yang nemu di pinggir jalan, setelah itu kami cuss pergi.
Waktu tempuh sekitar 2,5 jam.

Kami melewati beberapa daerah menuju pantai tanjung Lesung, yaitu Pandeglang, Labuhan, lupa apa lagi ._. pokoknya arah ke Labuhan deh. Sebelum mencapai pantai tanjung lesung, kami juga melewati beberapa pantai, yaitu pantai Carita arah ke pantai Anyer (tapi beda arah ya, Cuma liat papan penunjuk arahnya doang).

Jika dibandingkan dengan perjalanan menuju ke pantai Sawarna, jalannya relatif enak, tidak terlalu banyak jalan terjal/belok-belok. Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah ke Pantai Sawarna.
Sesampainya di Tanjung lesung, kami terkesima dengan jalan menuju resortnya, kiri-kanan ditumbuhin pohon pinus (kalo ga salah, eh apa cemara gitu ya) pokoknya bagus kayak di luar negeri gitu, ditambah dengan daun-daun berguguran, adem walaupun tengah hari. waww sepertinya memang dipersiapkan untuk ngebangun parawisata Banten nih. Pas masuk gerbangnya, yang udah deket ke pantainya, kami balik arah. Kaget karena masuk ke pantainya aja bayar Rp.60.000 -____- yaah pantai kok mahal ya, kami pun ragu. Tapi mau gimana lagi, udah jauh-jauh masa gajadi kan.
Pas masuk, pantainya masih sepi, arusnya tenang, di tepi pantai dibangun semacam gazebo atau restaurant untuk berteduh, banyak pohon kelapa yang semakin bikin asri dan teratur. Ada sepeda-sepedaan, bananaboat dan olahraga air lainnya, tapi bayar lagi, harganya juga mahal dibandingkan  pantai lainnya. Ohiya, kami dapat popmie atau es kelapa muda gratis (milih salah satu).


Tentu saja kami yang secara finansial masih terbatas ini, tidak main banana boat. Kami pesan makan minum juga buat bareng-bareng. Antara hemat dan pelit memang beda tipis.


Karena arus yang tenang, dilengkapi penjaga pantai juga (klo ga salah ada sih). Kami berani main agak ke tengah yang ada ayunan untuk tiduran, jadi berasa tiduran di atas air wkwk.



Sebelum hari semakin gelap, seharusnya minimal kami sudah di jalan. Tapi namanya keasyikan jarang ketemu pantai. Tidak berasa ternyata matahari mulai tenggelam, menyisakan seburat jingga di langit. Ombak pun semakin tinggi. Kami pulang, terimakasih Tanjung Lesung!



 Tulisan ini dimulai sekitar November. Aku berhenti menulis cukup lama. Kemudian akhir Desember, aku mendengar berita bahwa ada tsunami yang menerjang selat sunda, kemungkinan berasal dari runtuhan gempa gunung krakatau yang berefek pada pantai di Lampung dan Banten. Tanjung lesung adalah salah satu pantai yang paling parah terkena dampaknya. Turut berduka cita untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Akhir Maret, aku memulai lagi cerita ini. Kemudian menyelesaikannya, untuk mengingat bahwa suatu tempat pernah begitu indahnya hingga membuat bahagia yang mendatanginya, namun dengan segala kekuasaanNya bisa berubah dalam sekejap.
satu lagi, di awal cerita tadi aku bilang kalau aku menanyakan informasi jalan pada temanku yang asli Banten, beberapa minggu setelahnya temanku tersebut berpulang duluan menghadap yang Maha Kuasa.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un

Lain kali mungkin aku bercerita untuk hitam pertama selama internsip itu.

Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...