Skip to main content

Sefruit pelajaran

21 Februari 2020, seingetku.
aku ingat itu adalah jaga IGD paling membekas di hidupku selama jadi dokter yang memang belum lama ini.
Diawali dengan pasien anak usia 8 tahun dengan Dengue Syok Syndrome + Obesitas, dan pasien lain-lain yang datang silih berganti. rame sampe full bed. aku jaga bersama partnerku yang cukup bisa diandalkan, dia adalah seorang dokter internsip. dia keliatan semangat sementara aku mulai pusing hahahha
sampai setelah maghrib, aku kedatangan pasien perempuan dibawa oleh warga sekitar ditemukan tergeletak di pinggir jalan dengan motornya tanpa menggunakan helm. ketika dibawa memang pasien tidak sadarkan diri, kesadaran saat itu GCS 7, aku curiga ini perdarahan di otak, tapi awalnya aku tidak menemukan tanda-tanda trauma, sehingga aku mengira ini perdarahan spontan, bukan trauma atau cedera kepala berat, kemungkinan stroke perdarahan. tapi tetap saja penanganan pertama sudah dilakukan, obat sudah masuk, konsul spesialis, rencana CT Scan kepala, keluarga saat itu belum datang. sampai akhirnya keluarga inti datang dan aku menjelaskan kondisi pasien beserta rencana CT Scan yang tidak ada di RS tempat aku kerja. keluarga paham akan kondisinya.
kami berusaha untuk menelpon beberapa rumah sakit namun sulit sekali terhubung, sementara keluarga pasien yang lainnya yang tidak tau kondisi dari awal mulai datang rame-rame sambil marah-marah. tidak bisa dijelaskan lagi. dan mereka memaksa untuk dibawa langsung ke suatu RS Swasta.
akhirnya partnerku itu pun dengan memberanikan diri mengantar pasien itu, kondisi di IGD benar-benar rusuh saat itu karena amarah keluaga pasien. saat itu sekitar 10 menitan lagi pergantian shift sebenarnya. aku memeriksa kondisi pasien, benar-benar menurun kesadaran menjadi GCS 5, aku ragu untuk mengirim kondisi dalam kondisi seperti itu, bisa-bisa meninggal.
namun keluarga pasien terus marah-marah, aku pun terdesak, akhirnya diantar dalam kondisi seperti itu.
tapi aku melupakan sesuatu, sesuatu yang sangat penting, yaitu tanda tangan informed consent keluarga pasien tentang kondisinya serta risiko yang ditanggung jika memaksa untuk dibawa pergi, semuanya terburu-buru pergi saat itu.
sesampainya disana, setelah CT Scan, hasilnya menunjukkan adanya EDH, kondisi pasien menurun, apneu, dan akhirnya meninggal dunia. keluarga korban marah-marah, mengatakan dari RS sebelumnya tidak ada penanganan dan tidak bersedia membayar. perawat yang merujuk dan partnerku tersebut menjadi serbuan keluarganya.
aku keringat dingin dan merasa bodoh sekaliiiiii saat itu juga, menyesal sangat menyesal, sesampainya di rumah diam-diam aku nangis dan rasanya ingin mengutuk diri sendiri. merasa tidak pantas menjadi dokter. benar-benar marah dan kesal sama diri sendiri.
di sisi lain, aku juga merasa merugikan banyak orang. ohya, malam itu aku pulang sekitar jam setengah 11 malam, seharusnya pergantian shift jam 8, tapi aku menyelesaikan banyak hal dulu dan menunggu partnerku tersebut balik ke RS dan bercerita. dia tidak bercerita banyak, dia menjelaskan apa yang terjadi secara singkat. aku sempat minta maaf kepadanya. "tidak apa-apa" katanya. wajahnya tampak tegar saat itu, tapi aku tidak benar-benar tau perasaannya. keesokan harinya di RS swasta tersebut beredar kabar bahwa dokter yang mengantar pasien itu wajahnya pucat pasi karena sesampainya disana pasien apneu. beberapa hari kejadian itu terus menghantuiku, sambil aku terus berdoa semoga semuanya baik-baik saja dan tidak terulang lagi.

pelajaran yang bisa diambil hari itu adalah:
- tidak semua trauma kepala memiliki tanda-tanda trauma dari luar
- jika memang tidak jelas kronologisnya, lihat lingkungan ditemukannya
- langsung minta tanda tangan keluarga pasien setelah kita menjelaskan kondisinya
- jangan pernah terburu-buru dan terdesak, pastikan semuanya aman.
- harus lebih peduli dan pilihlah yang prioritas.

Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...