PPDS adalah singkatan dari Program Pendidikan Dokter Spesialis.
Beberapa orang menanyakan apa saja yang dipersiapkan selama proses menuju PPDS padaku, bukan PPDS Ilmu Kesehatan Anak saja, melainkan PPDS lainnya.
ah bisa apa aku, aku baru saja akan memasuki dunia ini.
Maju mundur untuk menulis dan membagikan ini, tapi beberapa teman mendukung sekali terbitnya tulisan satu ini. Hehehe terimakasih!
Jadi izinkan aku “menyicil” tulisan ini, sebenarnya ini adalah pengalamanku, mungkin berbeda dari teman-teman lainnya yang terlebih dahulu masuk PPDS, dan belum tentu juga ini bisa sama dan diterapkan untuk setiap orang, tapi mungkin dengan aku berbagi cerita, kamu tidak merasa sendiri dan mendapatkan pencerahan walaupun sedikit.
Aku memutuskan untuk lanjut PPDS tidak dadakan, tapi tidak juga banyak persiapannya. Hmm.. tapi aku diberitahukan oleh sebut-saja-mentor-baik-hati, bahwa kita tidak akan pernah benar-benar siap. “ya kalau dirasa cukup, yaudah maju, jangan kelamaan.”
1. Kenapa memutuskan untuk lanjut sekolah lagi? kenapa sekarang?
capek loh sekolah lagi tuh, sekitar 3-4 tahun sekolah lagi, tanpa penghasilan, dan mengorbankan banyak hal.
Mungkin alasan-alasan ini akan terdengar sangat personal, dan mungkin beberapa ada yang tidak bisa aku share.
- Menjadi dokter umum seterusnya, dengan wewenang yang terbatas, seperti selalu ada rasa ingin lebih, lebih tau, lebih lebih lainnya, ilmu juga terus berkembang, jika memang bisa mengoptimalkan ilmu yang kita punya mengapa tidak untuk sekolah lagi.
- Dulu sih pengennya menikah dulu, wkwk tapi intinya kejar aja apa yang bisa dikejar selagi ada kesempatannya. Sempat berpikir untuk cukup jadi dokter umum aja dan jadi perempuan yang lebih banyak ngurus rumah tangga. Namun setelah bekerja dan punya pengalaman sebagai dokter umum, malah merasa tidak puas dan terlepas dari belum menikah atau sudah, akan tetap melanjutkan sekolah lagi
- Dulu inginnya maksimal bekerja dua tahun saja sebagai dokter umum, kemudian lanjut sekolah lagi. Namun ternyata banyak hal yang perlu dipersiapkan, salah satunya kesiapan finansial dan tahun 2020 hingga 2021 akhir pandemi Covid-19 membuat sebuah lompatan waktu. Rasanya banyak hal yang ditunda dan terskip begitu saja. Hingga akhirnya tersadar ohh sudah saatnya untuk mencoba melanjutkan sekolah lagi.
Tidak semua yang kita rencanakan dapat terrealisasi tepat waktu. Bahkan kita harus melalui suka duka dulu, memang rencana Tuhan adalah yang terbaik. Aku juga bukan seseorang yang terus maju, sesekali aku berhenti dan mundur sejenak. Keputusan untuk tetap bekerja dan mencari kebahagian sendiri.
2. Persiapan
- Izin serta restu orang tua. Absolutely! Kalau udah menikah, tentu saja izin dari pasangan ya.
- Persiapan fisik dan mental. insyaAllah bisa ini mah.
- Persiapan Ilmu, ya belajar, kalau aku ditanya belajarnya bagaimana dan darimana hmm karena sebenernya belajar itu bisa darimana saja, tentu saja dari ahlinya misal dari webinar atau bahkan sosial media bisa, dari ketemu pasien (tentunya), dari konsul-konsul, dari ngajarin serta tanya-jawab dokter-dokter internsip, dari pertanyaan-pertanyaan pasien, dan dari sharing obrolan dengan rekan dan teman-teman. Kalau untuk mempersiapkan belajar yang benar-benar terarah mungkin sekitar 1,5-2 bulan, tapi memang sebelumnya sudah membaca konsensus IDAI untuk kasus-kasus yang sering ditemukan sehari-hari, jadi sambil kerja tentu baca-baca lagi teorinya. Setiap bagian pasti punya buku/guideline masing-masing penyakit dari UKK.
PPM IDAI jilid 1, jilid 2, PPK Anak dari Universitas yang akan dituju, konsensus IDAI.
kalau untuk Nelson jujur aku gak sanggup baca :')
- ‘Pegangan’ atau tempat kembali sebelum, saat, dan setelah selesai sekolah.
Aku bukan tipe orang yang suka dengan program yang penuh keterikatan seperti ASN, militer, dan dokter polisi. Aku pernah mencoba untuk seleksi ASN a.k.a PNS namun ya karena emang tidak belajar dengan sungguh-sungguh jadi tidak lulus wkwk. Jadi kalau bisa, menjadi PNS, dokmil, dokpol seperti itu memang sangat menjanjikan, apalagi keuntungannya bisa mendapatkan beasiswa dan ada yang menerima kembali setelah pendidikan. Namun memang tidak ada yang mudah dan instan, seperti seleksi masuknya yang ketat, lalu proses mengajukan beasiswa yang butuh waktu, dan harus sabar dalam pendidikan atau pelatihannya. Berdasarkan pengalaman ikut tes PPDS, banyak teman-teman yang sudah berpengalaman PTT, banyak yang sudah jadi PNS, dan ada juga yang dokmil. Sedangkan aku? Aku hanya bekerja di kota selama ini, bukan PNS, hanya tenaga kontrak. Beasiswa? Belum, inginnya mengajukan beasiswa Kemenkes untuk semester berikutnya, semoga bisa. Kenapa gak ngurus dari kemarin? Karena pesimis masuk hehehe.
Jadi sementara pakai tabungan sendiri dulu, dibantu dengan beasiswa orangtua (?), berat sih emang, tapi semoga ada rezekinya terus ya Allah :’’)
- Penelitian, seminar, dan pelatihan.
Jika ada penelitian di bidang yang diminati akan menjadi nilai plus, karena jika ditanyakan bukti apa yang menunjukkan bahwa kamu berminat di bidang tersebut. Maka salah satu jawabannya adalah bisa dengan cara membuat paper, case report, poster dan lain sebagainya.
Aku sendiri belum pernah membuatnya, hehehe sempat beberapa kali berniat bikin case report tapi tidak jadi terus karena terbentur ke(sok)sibukan.
Jangan khawatir untuk teman-teman yang belum punya ini itu, aku pun tidak punya penelitian, ya ada sih dulu alhamdulillah skripsi S1 ku diterbitkan jadi jurnal oleh pembimbing skripsi, namun itu penelitian bidang farmakologi, sama sekali bukan tentang IKA, dan itu sudah lama sekali.
Jadi aku ikut pelatihan resusitasi neonatus, sebagai salah satu minat, dan ilmunya berguna juga untuk resusitasi neonatus di tempatku kerja.
Untuk seminar-seminar, ya aku ikutin saja apa yang ditawarkan tapi lihat-lihat harganya juga wkwk, yang gratis juga banyak sebagai tambahan untuk mengisi waktu.
- Rekomendasi
Sebagai seseorang yang tidak memiliki keluarga dekat seorang dokter, maka aku harus sadar diri untuk ‘mendekati’ dokter spesialis yang sekiranya bisa memberikan ilmu, nasihat, kesempatan untuk belajar, dan rekomendasi untuk melanjutkan sekolah. Tadinya aku kira aku tidak bisa, aku kira aku bukan orang yang menonjol sebagi dokter umum di rumah sakitku tempatku bekerja, aku juga orang yang biasa-biasa saja.
Oke akhirnya aku memutuskan untuk menghadap, sampai terakhirnya aku masih belum tau minta rekomendasi ke siapa, namun karena sudah pernah menghadap, menunjukkan niat dan sikap baik, serta membantu beliau. Saat meminta rekomendasi, beliau langsung “yes” huhu dan beliau si mentor baik hati lainnya, mengarahakan aku ke perwakilan organisasi profesi. Alhamdulillah jalan lebih terbuka.
Banyak sekali keraguan dan ketakutan untuk memulai, namun setelah berbagi cerita dengan beberapa orang, mereka mendorongku untuk menghadap langsung saja karena toh selama 2 tahun lebih ini sudah bekerja di RS tempatku bekerja. Tidak ada salahnya, dan alhamdulillah tanggapannya baik-baik.
Salah satu rekan kerjaku yang pernah mencoba PPDS mengatakan “kalau untuk minta rekomendasi itu ya udah gak usah ada kata malu lagi, dicoba aja minta izin, yang penting sopan. Tebal muka aja.”
“kalau udah terdesak, ya gak usah ada kata malu lagi, kan kita juga yang butuh”
Salah satu motivasiku saat belajar untuk ujian adalah “jangan malu-maluin yang ngasih rekomendasi”
- Perkuat hubungan dengan Allah
Di setiap langkahku, memulai dari nol, tidak akan berhasil tanpa campur tangan Allah, diberi kemudahan untuk diterima kerja setelah penantian beberapa bulan, mencari jati diri, mencari cuan, mencari kesempatan, mencari kenalan, menembus rasa takut dan khawatir.
Jalan tidak selamanya mudah dan mulus, kalau jatuh ayo bangkit lagi.
3. Mengapa akhirnya memilih Ilmu Kesehatan Anak?
Aku termasuk orang yang sulit mengenali diriku sendiri.
Beberapa tahun pengalaman sebagai dokter umum akhirnya membuatku paham apa yang aku mau dan mampu.
Beberapa orang sejak koass sudah tau ingin ambil spesialis apa dan tidak pernah berubah-ubah. Tapi tentu saja aku bukan bagian dari mereka yang teguh pendiriannya dari awal hingga akhir.
Aku tidak menyukai banyak tindakan, karena skill aku pas-pasan, jadi Obsgyn dan Bedah aku singkirkan.
Aku juga tidak menyukai kasus yang stressfulnya tinggi, seperti Anestesi dan Jantung.
Banyak yang mengira aku akan memilih Jantung, mungkin karena sering share kasus-kasus Jantung dan banyak belajar EKG, padahal itu karena aku tidak bisa dan takut membahayakan pasien karena ketidaktahuanku. Karena merupakan bagian yang sulit, maka setelah dapat kasus unik dan khas sering aku bagikan untuk jadi pembelajaran buat yang lainnya.
Aku dulunya ingin mengambil bagian yang minor-minor saja, salah satu keinginanku saat kuliah (preklinik) adalah Mata, karena baca novelnya dr. Ferdiriva, Sp.M wkwk (retjeh kan). Namun, saat koass, stase akhirku adalah Mata, dan aku hampir tidak lulus di stase itu, parah bangeeet pas ujian masa banyak salahnya, sejak saat itu mimpiku berubah, merasa tidak pantas untuk ambil Mata. Setelah kerja pun, aku lebih menikmati kasus sehari-hari yang sering ditemukan di IGD, dan Mata bukan salah satunya.
Sempat terpikir mau ambil Neurologi saat internsip karena ngefans sama para spesialis sarafnya (retjeh lagi kan), ngerasa kalau saraf tu pemeriksaannya khusus dan kasusnya jelas. Hahahha tapi setelah kerja, malah ngerasa kalau kasus saraf tu rumit dan lebih sering edukasi prognosis jelek ke keluarga. Lumayan banyak pasien terminalnya juga.
Dulu juga pengennya ambil Penyakit Dalam, berhubung saat koass stase ini dapat nilai lumayan bagus kan wkwkkw sombong dikit, dan konsulen-konsulen saat koass baik-baik banget. Tapi setelah internsip dan kerja, malah pusing penyakit dalam banyak banget terapinya gak selesai-selesai, pasiennya juga banyak banget takut gak optimal aja gitu.
Lalu, sebenarnya sudah menyukai Ilmu Kesehatan Anak sejak koass, tapi tertahan karena tidak ingin ambil bagian Mayor, “takut anak sendiri nantinya gak terurus” itu dulu yang aku pikirkan. Ya berhubung sekarang belum punya anak, wkwk calon bapaknya aja belum ada kan, yaudah gas ajalah ambil. Berdasarkan pengalaman, memilih ambil Anak juga penuh dengan pergulatan batin, maka sering-seringlah belajar dari kasus yang ditemukan, follow dokter-dokter influencer yang sering berbagi cerita dan ilmu, ngobrol atau tukar pikiran dengan orang-orang yang sudah berpengalaman.
Kan sebenarnya kalau suka yaudah suka aja, gak usah pake alasan ya #tsaaaah. Ditoyor deh aku kalau jawabannya gitu wkwk
Alasanku:
Oke, mungkin ini alasan yang akan terdengar klise untuk banyak orang.
- Anak adalah suatu ilmu yang unik, berbeda dari yang lain, bisa diterapkan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya membahas tentang penyakit namun juga kesehatan Anak secara komprehensif. Satu pasien harus benar-benar diperhatikan detail.
- Seringkali ketika mendapatkan pasien-pasien anak, jika ditanganin dengan cepat dan tepat maka kesembuhannya akan lebih baik.
Terharu melihat anak gizi buruk, setelah diterapi menjadi gizi baik dan tumbuh kembangnya baik, setidaknya hal ini bisa dikejar, walaupun setelah lewat masa emas, hal ini akan lebih sulit lagi. Senang juga rasanya melihat anak yang sesak menjadi tidak sesak lagi. Lega melihat pasien DSS tertanganin dengan baik.
- Seorang anak itu perjalanan hidupnya masih panjang, anak juga harapan dari orang tuanya.
- Tidak hanya sekedar suka anak-anak, tapi harus sanggup dan kuat melihat anak-anak yang sakit dan akan bertekad untuk mengoptimalkan kesehatannya sesuai potensi.
Ya tapi setelah dipikir-pikir sekarang, gak mau yang banyak tindakan dan stressful, tapi jadi dokter anak juga harus bisa intubasi bahkan intubasinya lebih sulit lagi, siap dipanggil kalau SC, bahkan banyak juga hal-hal yang akan membuat stress wkwkwkwkwkk dahlah jalanin aja. Bismillah.
Jangan takut jika ada yang bilang, kenapa ambil anak? Kan udah banyak spesialis anak.
Ingat, semuanya butuh regenerasi, yang senior akan melanjutkan sekolah untuk supspesialisasi lagi, lalu untuk perbandingan kebutuhan pasien dan dokter anak juga masih kurang, inget batasan anak adalah usia 0-18 tahun. Jadi jangan khawatir. Rezeki insyaAllah udah ada yang ngatur.
Sejauh ini, alhamdulillah dokter-dokter anak yang aku temuin sangat welcome dan mendukung untuk sekolah lagi.
4. Mengapa akhirnya memilih di Universitas Sriwijaya?
Lulus S1 dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) membuatku ingin melanjutkan sekolah di Pulau Jawa lagi. aku ingin sekali masuk UNS atau UGM.
Namun, ternyata banyak pertimbangan yang membuatku semakin meragukan keinginan tersebut. apakah aku benar-benar se-ingin itu, atau aku hanya ingin meneruskan zona nyaman saja karena telah terlebih dahulu sekolah di Jawa, memahami lingkungan, disana juga pastinya almameterku lebih dikenal, dan lain sebagainya.
kalau aku lanjut sekolah di Jawa lagi, berarti ada jarak yang begitu jauh untuk pulang ke rumah, sementara PPDS adalah dunia yang keras, lelah, dan tidak menentu, aku mempertimbangkan bagaimana jika aku butuh support system suatu saat nanti. di Jawa aku tidak punya siapa-siapa, kecuali keluarga yang berada di Jakarta. aku juga belum menikah, memang ada yang bilang seharusnya lebih bebas, namun aku tau saat seusiaku sekarang, pasti teman-teman sudah banyak yang berkeluarga, dan ketika telah punya keluarga kecil maka pasti akan memprioritaskan keluarganya daripada teman. Dulu saat kuliah S1 jika ada libur beberapa hari aku sering tidak pulang ke kampung halaman karena jauh, berat di ongkos, jadi seringkali ikut teman-teman yang tinggalnya di area Jawa Barat.
Jadi 3 bulan sebelumnya aku tidak tau mau ikut dimana, namun rekan kerjaku menyarankan untuk ambil Unsri saja, selain karena memang IKA Unsri bagus, juga dekat sehingga masih terjangkau untuk pulang sewaktu-waktu, sebentar lagi akan dibangun tol antar Sumatera (oke ini masih lama sih ya ternyata), dan seleksinya fair. Aku yang gampang terpengaruh ini pun hatinya tergerak untuk mencoba ikut TOEFL sebagai persyaratan awal (harus ikut dari bagian bahasa Unsri). Setelah pulang dengan hasil TOEFL yang cukup, aku mulai berpikir ya ngapain ya udah ikut toeflnya jauh-jauh sampai ke lokasi, tapi gak jadi ambil disana. Ada beberapa pilihan lainya yang masih aku pikirkan saat itu. Masih juga berencana untuk ikut TOEFL ITP agar bisa digunakan untuk mendaftar di universitas lain, tapi aku mundur karena biayanya lumayan besar dan ngapain kalau coba sana-sini tapi gak ada tujuannya, jadwalnya pun saat itu tidak match dengan jadwal jaga dan cepat sekali penuh (pendaftaran sistem online).
UNS aku coret dari daftar keinginanku karena banyak alasan.
UGM belum aku coret, masih ada rasa ingin mencoba untuk daftar kesana, tapi melihat kesiapan aku yang grasak grusuk, sebentar lagi pendaftaran berkasnya tutup, dan aku belum ikut ACEPT dan mempertimbangkan persaingan pasti sangat ketat. Akhirnya aku relakan.
UI aku tau diri sajalah.
Pilihanku antara USU atau Unsri.
USU sebenarnya adalah pilihan banyak keluarga disana, namun aku tidak ingin terlalu menggantungkan diri pada mereka, tidak ingin banyak campur tangan dari mereka.
Akhirnya, tanggal dimana pengumuman pembukaan PPDS Unsri disitulah aku yakin dan langsung gasss udahlah daftar, tapi masih mikir-mikir juga waktu itu. Keinginan itu masih aku pendam sendiri.
Sampe beberapa rekan kerja bertanya “jadi daftar PPDS?”, Aku dengan santainya menjawab “belum tau, doain aja kalau keburu ngumpulin berkasnya berarti jadi”
Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya ke teman yang aku tau sepertinya akan ikut tes juga. Padahal gak dekat-dekat banget.
“mau daftar PPDS Unsri ya?”
“iya, lagi minta tandatangan dokter ini nih....”
Hahhh?
Disitu rasanya langsung menggebu-gebu dan kelimpungan gan! Di saat orang-orang sudah mengumpulkan kelengkapan berkas, aku masih santai. Perlu diketahui pendaftaran berkas cuma seminggu (ini sudah termasuk mengantarkan berkas langsung ke Palembang). Di saat teman-teman yang mau daftar sudah mengumpulkan berkas, aku masih berada di Jambi untuk mengejar tanda tangan.
Kalau bisa memilih, mungkin aku akan mempersiapkannya jauh-jauh hari ehhehehe.
Aku tau rasanya kebingungan-kebingungan yang dihadapi ketika akan mendaftar sekolah. Bahkan, aku juga tau rasa takutnya. Kalau tidak karena orang-orang tempat aku berbagi cerita ini aku pasti sulit menemukan jawabannya. Tentu saja dengan izin dan petunjuk dari Allah juga.
Jadi aku menyarankan kepada siapapun yang mau mengambil PPDS ataupun sekolah lagi, teman-teman harus tau mau ambil program studi apa, lalu mau ambil dimana. Kalau itu sudah jelas, maka akan lebih terarah, persiapan masuknya harus memenuhi syarat apa saja dan bagaimana proses seleksinya. Begitupun kelebihan dan kelemahan prodi serta tempat akan mendaftar. Mulai darimana? Mulailah darimana saja, sekecil apapun langkahmu akan dinilai besar dengan niat yang baik. Jangan takut, langkah pertama memang lebih sulit namun bukan berarti tidak mungkin.
Comments
Post a Comment