Skip to main content

Expectless

Beberapa hari, minggu, bulan hingga akhirnya setahun telah berlalu. Tujuh bulan masa-masa berat saat menjadi junior dengan segala adaptasinya, tidak kusangka sudah lewat. banyak hal yang membuatku terkaget-kaget ketika masuk ke pendidikan ini. ternyata tidak berlebihan jika banyak yang bilang kalau nanti sudah sekolah semua akan berubah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, ya coba pikir-pikir lagi kalau mau sekolah haha, capeknya ya capek banget, gak cuma itu, kewarasan juga diuji, kekuatan fisik, mental, ketepatan waktu, kesabaran apalagi.
beberapa bulan kemarin, mungkin banyak yang pesan singkatnya tidak kubalas, tidak kurespon dengan cepat, maklumilah manusia satu ini sulit memanajemen pikiran dan waktu, jadi yang kubuka dan kurespon cepat biasanya adalah hal-hal yang berhubungan dengan sekolah. tapi aku percaya ada saatnya, ya semua itu ada saatnya. saat junior pun, jujur saja, di beberapa bulan awal aku gak pernah makan di kantin, ah orderan segunung, mondar-mandir, buat laporan dan perbaikannya, ujian, tugas, maju ilmiah, mana sempatlah buat makan dengan tenang di kantin. banyak hal yang kami korbankan, mulai dari menahan rasa lapar, nahan pipis, gak sahur dan makan padahal gak puasa, jauh dari keluarga, dan lain sebagainya. sampai akhirnya di bulan-bulan menuju kenaikan, dimana aku harus tertahan satu stase karena mengulang, aku sampai takjub bisa makan di kantin dan "wow kapan ya terakhir makan di kantin ini?" hahhaha miris sih.

banyak banget hal yang terjadi
aku bukan orang yang jalan hidupnya lancar jaya tanpa hambatan kayak jalan tol, begitupun di pendidikan ini. ada saja cobaannya, ada saja ujiannya.
mulai dari ilmiah pertamaku, belum mempersiapkan diri, sampai-sampai waktu majuku tinggal sebentar. singkat cerita, malam sebelum aku maju adalah malam aku jaga, sok kuat, tidak tukar jaga dengan teman yang lain. lalu aku gagal memberikan makalah tepat waktu kepada penguji (walaupun aku sudah berusaha tapi bener-bener tidak bisa). pada hari H aku maju, H minus beberapa jam, aku memberikannya, lalu pengujiku marah besar, berdasarkan peraturan aku boleh maju dengan nilai maksimal 71 (jujur aku tidak tau sebelumnya), lalu makalahku difoto dan dikirim ke grup besar yang isinya semua konsulen. hancur banget rasanya saat itu. udah gak tau lagi mau gimana, boro-boro mau belajar untuk maju, yang ada malah aku nangis di kamar mandi. setelah viral di grup besar, langsung banyak yang mengirim pesan ke WA isinya mayoritas bertanya "kenapaa??" untungnya di sela huru-hara ada senior yang mengirimiku pesan singkat "udah tetap maju aja, apapun yang terjadi" , baru itulah akhirnya aku bangkit. ini baru awal katanya, akan banyak hal luar biasa yang akan terjadi. maju aja, ya pasti dibantai sih, tapi ya sudahlah. aku juga pasrah kalau memang dipermalukan saat maju presentasi saat itu.
hingga akhirnya, hari itu terlewati juga, dengan nilai yang sedikit tinggi dari 'perjanjian' yaitu 72.5.
waktu itu masih 1.5 bulan masuk, rasanya semuanya serba tidak terkontrol, sampai lupa jadwal maju ilmiah sudah dekat. aku juga tidak tau harus apa dan bagaimana, benar-benar masih bingung tentang aturan main di pendidikan ini.

setelah itu masih banyak lagi cerita tentang naik turunnya kehidupan.
tentang tugas yang tertumpuk dan tidak ada habisnya
tentang hal-hal yang tidak masuk akal tapi harus bisa dikerjakan
tentang segala sesuatu yang dituntut kesempurnaan.
tentang kata-kata yang sebaiknya tidak usah dimasukkan ke hati.
yang penting tetap kuat dan sabar.
perluas sabar.
sempatkan shalat.
banyak juga yang tidak bisa aku ceritakan disini.

aku tidak melarang siapapun untuk sekolah, malah harus memotivasi, tapi aku juga harus bilang bahwa jangan berekspektasi tinggi dulu ketika awal masuk sekolah. persiapkanlah diri.

dari kerasnya kehidupan kemarin, seringkali aku iri dengan kehidupan 'luar', tapi seiring berjalannya waktu aku sudah membiasakan diri 'hidup' disini.

sekarang, sudah menjadi Madya, tantangan baru dan tanggung jawab baru...
"Harus belajar, kalo gak pasienmu meninggal nanti."kata seniorku.
yap benar sekali, harus belajar, harus siap dengan serangan-serangan yang lebih besar.

Comments

Popular posts from this blog

10 Things about Pediatric Residency

Alasan kenapa harus memilih jalan menjadi PPDS Anak? Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan banyak orang, mulai dari adik-adik dokter muda, sejawat dokter, bahkan beberapa yang di luar tenaga medis. Pertanyaan ringan yang seharusnya dijawab automatis tanpa berpikir panjang.   Tapi bukan pertanyaan bercanda juga, membuatku harus berpikir banyak untuk menjawabnya. Bahkan setelah di tahap ini masih saja mempertanyakan kenapa ya. Kalau aku jawab mengikuti hati, ah terlalu klise. Pertanyaan yang rutin diberikan saat seleksi calon peserta didik, tapi ini bukan wawancara masuk PPDS yang harus kujawab dengan idealis, kali ini aku sedang melalui perjalanannya yang berat. Alasan yang di awal itu belum tentu akan relate saat ini. Jadi jika kalian akan mempertimbangkan untuk ingin tahu alasanku, silahkan dibaca. Boleh jadi kalian setuju, boleh juga tidak, karena pada dasarnya ini hanya pemikiran salah satu PPDS/residen Anak yang masih mengenyam pendidikan. Tanpa sama sekali membesar-b...

Sekilas info Ujian Masuk PPDS IKA

Disclaimer dulu: tulisan ini aku buat karena pengalamanku yang sulit mencari informasi dan menentukan pilihan daftar dimana, aku juga kekurangan informasi apa dan bagaimana ujiannya, jadi banyak bermodalkan nekat. Persiapan memang ada, namun, dirasa masih mengambang, bersyukur di dekat-dekat ujian, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada senior-senior yang belum kenal dekat sebelumnya tapi syukurlah banyak dapat gambaran dari situ. ohiya ini bukan tips n trick ya, tapi bolehlah kalo dijadikan inspirasi wkwk apasihhh.. oke mari izinkan aku berbagi...

not as plain as before

Setiap perjalanan pasti punya persinggahan dan akhir. Semua akan bergerak maju mengikuti arus waktu. Setiap hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.   Masih teringat jelas dapat panggilan telepon dari kak Lina. “Mi, jadi pengampu koass ya! Yok operan” “Hah gak salah kak?” “Iya beneran...” “Duh kak, gak akan di acc sih. Emangnya disetujui? Kan aku...aku... *banyak alesan si orang minder*” “Yang penting bisa jadi orang yang galak, Mi. Bisa marah” “Oh gitu, baik kak” (pasrah gak bisa nolak senior wkwk dan bener aku emang terkenal galak sih jadi yaudah) Ternyata udah berlalu sekitar 5-6 bulan, terimakasih sudah memberi warna-warni di hidupku. Dari mereka aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari mereka aku selalu berusaha lebih sabar lagi. Dari mereka aku belajar untuk tidak mendengar cerita dari satu pihak saja. Dari mereka aku belajar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Dari mereka aku belajar untu...