Setelah dua tahun pengumuman yang mengejutkan dan mengubah hidupku setelahnya, banyak hal terjadi. Akan menjadi cerita panjang jika aku jelaskan naik turunnya kehidupan di fase merah hingga menjadi kuning yang telah melewati pertengahan perjalanan.
Tujuh bulan pertama langkah sangat terseok-seok dan melelahkan, aku dengan segala ekspektasiku tentang sekolah ternyata jauh dari kenyataan, namun kita semua harus menerimanya bukan? Seorang expert sekalipun pasti berawal dari seseorang yang tidak tau apa-apa. Dari bukan seseorang menjadi seseorang (?) apasih ya wkwk. Ya initinya semua ada saatnya, terima aja semua, terima kalo jadi junior mah, mau ngomel-ngomel boleh, tapi tentunya tetap hargai senior dan supervisor.
Ternyata, ketika masuk fase selanjutnya juga jauh lebih sulit. Ada tanggung jawab yang begitu besar.
“Kita tidak akan pernah tau rasanya jadi orang tersebut kalau kita belum berada di posisi tersebut”
Begitulah...
Aku dulunya mungkin saja bukan junior yang baik, sekarang ketika aku berada di posisi ini, aku jadi merasakan ternyata begini rasanya, ternyata ada alasannya kenapa ada teguran, ada omelan, ada sindiran dan lain sebagainya. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada yang cuek, ada yang menegur secara halus, ada yang menegur dengan gas elpiji 3 kg, gas elpiji 12 kg, atau kompor. Jangan tanya aku yang mana hahaha.
Meninggalkan zona nyaman, di saat bisa jadi tulang punggung keluarga, di saat hidup lagi bahagia-bahagianya adalah keputusan besar dan harus dipertanggungjawabkan.
Beberapa hal patut aku syukurin saat ini adalah:
1. Aku bisa bertahan melewati segala badai yang menghadang dan harus bertahan menghadapi badai yang akan datang.
2. Aku bisa melakukan hal yang aku kira tidak mampu aku lakukan. Karena prinsipnya adalah semua harus bisa.
3. Aku memiliki teman-teman terpercaya yang mampu saling menguatkan dan tempat mengeluarkan segala amarah
Tapi jika saja aku harus memilih, mungkin ada beberapa hal yang perlu aku persiapkan untuk sekolah.
1. Memiliki beasiswa sehingga gak perlu menghela napas tiap liat saldo ATM.
2. Nikah dulu dan punya anak dulu.
3. Adaptasi di lingkungan yang bukan tempatmu sekolah dulu membutuhkan usaha ekstra.
Hidup sendiri di tengah gempuran serangan tidaklah mudah, melihat apa yang aku inginkan namun belum bisa ku dapatkan, menghadapi kenyataan bahwa membuka diri dan melangkah maju tidaklah mudah.
Cukup disini ringkasan cerita panjangku, sudah waktunya aku bersiap untuk menjaga bayi-bayi mungil di NICU. Wow ternyata nulis gini aja bikin aku mewek. Hehehehe. See you later, guys!
Palembang, 7 Juli 2024
2 tahun 1 hari setelah pengumuman.
Comments
Post a Comment