Kali ini aku ingin menceritakan tentang kegagalan. Setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan, sehebat apapun orang tersebut. Tidak ada hidup yang berjalan mulus-mulus saja, ada saatnya kita gagal.
Banyak bentuk kegagalan yang aku ingat agar aku bisa merasakan sudah sejauh mana sudah melangkah. Namun, hanya beberapa gagal yang aku simpan baik-baik di memori jangka panjangku dan ingin aku ceritakan.
Aku pernah gagal masuk kuliah kedokteran PTN melalui jalur undangan maupun jalur tulis. Di tahun yang sama aku terus bangkit hingga ada kesempatan terakhir ujian masuk bersama (UMB) dan aku berhasil masuk ke Unsoed. Aku tidak pernah menyesalinya dan sangat bersyukur karena saat kuliah merupakan titik balikku. Rasanya aku sudah pernah menceritakanya disini ya hehehe.
Salah satu momen gagal yang aku ingat saat menjadi mahasiswa kedokteran adalah saat ujian identifikasi (ident) lab Histologi. Singkatnya, jenis ujian ini yaitu menjawab preparat di bawah mikroskop dan menjawab struktur apa yang ditunjuk, kadang juga harus menjawab fungsinya dalam waktu 1 menit kemudian pindah atau bergeser-geser sesuai alur yang telah ditetapkan.
Aku mengerjakan soalnya dengan lancar, tapi ternyata aku lupa menulis nama, padahal itu adalah hal mutlak untuk penilaian. Padahal itu bukan blok awal jadi mahasiswa kedokteran hadeeeh, hm lupa sih blok apa ya waktu itu, kayanya digestive ya :’). Sebenarnya lembar jawabanku sudah dikoreksi oleh asisten dosennya, dan kebetulan saat itu aku kenal sama mba asdosnya, lembar jawaban tanpa nama itu (punyaku) mendapat nilai 90an. Namun, punyaku tanpa nama, dan dosennya tau bahwa ada lembar jawaban yang tidak bernama. Nilaiku yang dikeluarkan pun akhirnya tidak ada, langsung merah (kalau tidak salah) dalam arti harus ikut remedial. Aku mencoba menghadap dosen tersebut sambil memohon belas kasihan, oh tentu saja aku sudah nangis2 menyesali kebodohan dan keteledoran ini di kosan hiksss. Saat di ruang dosen tersebut, beliau bilang “aturan tetaplah aturan. Tidak ada pemakluman, ini jadi pembelajaran buat kamu, karena di instansi manapun hal seperti ini tidak ada toleransinya”. Aku terdiam, lalu keluar dengan langkah gontai, tapi disitu aku mencoba memahami maksud beliau, dan aku mengakui bahwa aku memang salah. Kemudian aku belajar lagi untuk ujian remedial, yeah life must go on. Alhamdulillah lulus, harus puas dengan nilai 66 karena itu nilai tertinggi untuk yang lulus remedial.
Hingga sekarang aku masih mengingat kejadian itu, aku paham bahwa penilaian dosen itu tidak main-main, selalu ada maksudnya, aku menjadi lebih teliti dan disiplin. Ternyata yang diajarkan beliau saat itu masih berkesan sampai sekarang.
Aku gagal karena kecerobohanku sendiri, lalu aku bangkit dan memperbaiki diri.
Aku bukannya tidak bisa mengerjakan ujiannya, namun ternyata ada hal lain yang membuatku gagal.
Hal yang dikira kecil, ternyata berdampak besar sekali.
Cerita ini hanya sebagian kecil tentang kegagalan.
Aku tau rasanya gagal.
Aku tau rasanya berjuang namun tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Kenapa tiba-tiba aku menulis ini?
Lalu apakah gagal hari ini sudah pasti gagal di kemudian hari?
Dulu, banyak yang mengatakan “kita tidak pernah tau hasilnya kalau kita tidak pernah mencoba”. Memang benar.
Tapi semakin dewasa, aku sadar bahwa ternyata mencoba sangat butuh keberanian, butuh pengorbanan, dan banyak rasa khawatir yang harus dihentikan. selain itu banyak faktor yang mempengaruhi.
Kita semua pasti sulit menerima suatu kegagalan.
gagal dalam percintaan, gagal dalam urusan keluarga, gagal bangun pagi,
gagal diet, gagal mendapatkan hatinya, eaaaa, gagal fokus. yak mulai
ngawur wkwkwkkw *ditoyor netijen*
Tentu kita tidak pernah ingin gagal berulang kali untuk hal yang sama.
Tapi percayalah...
“Setiap orang punya ujiannya masing-masing dan
yakinlah ujian itu tidak akan melebihi kemampuan hambaNya.”
Comments
Post a Comment