Tulisan ini seharusnya ditulis di bulan Juli-Agustus 2026, namun berhubung pada bulan-bulan tersebut aku sibuk mempersiapkan sidang hasil tesis sampai ujian kompetensi nasional jadinya baru terrealisasi sekarang. Sebelumnya aku memang niat mereview tahunan perjalanan residensi supaya terkenang dan berkesan hingga nanti di kemudian hari aku menemukan diriku yang lebih baik dari sebelumnya. (https://flalalami.blogspot.com/2025/07/third-year.html, https://flalalami.blogspot.com/2024/07/cerita-dua-tahun.html)
Tahun keempat, tahun terakhir mengenyam pendidikan, tahun yang sekiranya mungkin hidup residensi ini lebih mudah, kalau sebelumnya bertahan kali ini harus ‘menyerang’ lebih agresif. Nyatanya hidup residen tahap akhir tidak juga mudah. Malah tambah stress wkwkwkkwk.
Titik terendah sekitar bulan
Februari 2026, aku terjaring depresi dari skrining bersama dengan beberapa
residen lainnya. Hidup memang terasa berat pada saat itu, semua beban terasa
menumpuk, keinginan tidak sejalan dengan
kenyataan, merasa bersalah, merasa gagal. Dipanggil Psikiater, KPS, Pembimbing
Akademik dan Pembimbing tesis. Ada keterkejutan dari mereka, tampaknya aku baik-baik
saja, tidak pernah menampakkan pertanda depresi. Aku jujur mengisi skrining tersebut
dan tidak bisa lagi membendung apa yang selama ini aku tahan. Saat itu Psikater
menganalogikan kondisiku, ada gelas yang terus-terusan diisi air sampai penuh
tapi tidak pernah dikosongkan, maka air di dalam gelas tersebut akan tumpah. Air
itu ibaratnya masalah, tekanan, kesedihan dan emosi lainnya yang terus aku
represi (tumpuk), kemudian gelas adalah kapasitas mentalku. #CMIIW sejawat
psikiatri. Satu minggu, dua minggu berlalu aku pun mencoba mengikuti saran
psikiater, mulai olahraga lagi, mulai journaling
karena aku memang kurang bisa bercerita langsung, dan mengatur waktu untuk
menyelesaikan ilmiah-ilmiahku satu persatu sambil membuat target. Saat itu aku
sadar diri untuk tidak memaksakan ikut ujian kompetensi nasional bulan Mei,
terkadang mundur untuk bersiap lebih baik dibandingkan maju tanpa senjata.
Sebenarnya Junior, Madya, dan
Senior ada kadar stressnya sendiri. Bentuk stressnya berbeda, kalau dulu Junior
capek, stress banget juga tapi gak punya waktu untuk memikirkannya jadi jalani
terus saja, tapi kalau sudah Senior stress dengan banyak hal dan mikir banyak,
tapi ada waktu untuk bersedih dan merasakan bentuk keterlambatan dan kegagalan.
Ok skip ya dark storynya, dengan dukungan keluarga dan teman-teman sekandung
pun aku bangkit lagi, menjalani hari demi hari yang ternyata cepet banget. Maret
2026 aku berhasil maju satu ilmiah besar, lega dikit. Karena aku tidak ikut
ujian dalam waktu dekat, aku punya cukup waktu untuk mengerjakan Tesis walaupun
tetep aja banyak hal yang harus dibenerin, alhamdulillah punya teman-teman
seperjuangan yang tiap hari kerjaannya makan, nongkrong, buka laptop ngerjain
kalimat demi kalimat hingga selesai sampai di sebuah kesimpulan. Mendekati hari-hari
genting pun ada aja dramanya. Satu orang demotivasi, yang lainnya harus peduli
dan saling membantu. Saling meyakini bahwa kami bisa ujian kompetensi nasional
bersama-sama.
Juli 2026 awal aku maju tesis,
alhamdulillah tidak perlu maju ulang, tapi tetap ada beberapa revisi. Pertengahan
Juli adalah penentuan untuk siapa saja yang akan mengikuti ujian kompetensi
nasional. Alhamdulillah (lagi) kami berempat bisa menyelesaikan ilmiah kami
sebelum waktu tenggat. Setelahnya, jangan ditanya betapa hecticnya dan penuhnya isi kepala. Berasa lari maraton, mulai dari
ambil kasus ujian, ujian lokal, melengkapi syarat-syarat ujian (logbook), belajar,
belajar, belajar, minta bimbingan, ngumpulin soal. Sungguh sesuatu capeknya,
aku suka belajar tapi gak suka ujian hmm makanya hampir tiap hari ngeluh capek
terus wkwk tapi yang penting udah mempersiapkan diri walaupun waktu ujian ada
aja kegoceknya (kegocek means terkecoh wkwk), but its okaaay memang harus struggling kalau mau dapetin sesuatu yang
besar, kan? Selalu membayangkan setelah
ujian nanti bisa leha-leha jadi harus semangat menghadapi hari-hari ujian.
Pertengahan Agustus mendekati
ujian nasional emang nervous bukan main,
GERD kambuh, muka jerawatan, tidur ga
nyenyak (eh tapi sering jg ketiduran sih). Sampai akhirnya tibalah ujian dan
pengumuman. Yeayyyy kami lulus!!!
Jalan memang masih panjang,
belajar seumur hidup, jadi dokter anak seumur hidup, tanggung jawab dan amanah
yang akan dijalankan dengan baik insyaAllah.
Hal yang mungkin dilihat orang-orang WAH hebat, tapi ada juga kegagalan dibaliknya, ada juga titik terendahnya. Di balik kepercayaan yang diberikan, sebelumnya pernah kena omel dan marah dalam proses pembelajaran. Tapi kita belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan terus bertumbuh.
Terimakasih, perjalanan residensiku telah usai.
There is always light at the end of the tunnel.
Comments
Post a Comment